Tanya :
Saya beristrikan seorang yang beragama Nasrani dan dia itu berakhlak baik serta terpuji. Kemudian setiap hari minggu dia itu pergi ke gereja. Bolehkah saya melarang dia agar tidak pergi ke gereja?
Jawab :
Seorang laki-laki itu tidak dilarang untuk menikahi seorang wanita yang beragama Nasrani, tetapi alangkah baiknya bila ia menikahi seorang wanita yang sama-sama muslim dan menjauhkan diri dari beristri dengan non muslim.
Kemudian wanita yang beragama Nasrani ataupun Yahudi yang bersuamikan seorang muslim, ia harus diberikan hak untuk bebas beriman dan beribadah, tetapi bukan bearti harus ke gereja. Meskipun kepergiannya itu tidak menyebabkan suaminya berdosa.
Tetapi suami yang muslim harus lebih hati-hati dan waspada terhadap ajaran yang diberikan ibu yang Nasrani kepada anaknya, karena hal itu sering terjadi. Sebab seorang ibu lebih besar pengaruhnya terhadap anak-anaknya. Maka dari itu suami harus melarang istrinya yang Nasrani untuk membawa anak-anaknya ke gereja, sebab mereka muslim sesuai dengan agama ayahnya. Karena tidak jarang terjadi anak-anak tersebut di baptis secara diam-diam di gereja.
Sumber : Dialog Wanita Muslim, Imam Turmudzi
Wednesday, May 21, 2014
Tuesday, May 20, 2014
Wanita dan Emansipasi
Tanya :
Bagaimanakah pandangan Islam mengenai tuntunan kaum wanita
untuk emansipasi (persamaan) wanita (dengan laki-laki)?
Jawab :
Orang yang menyerukan persamaan hak wanita dan
laki-laki, mengapa tidak menuntut persamaan pria dengan wanita atau emansipasi laik-laki? Sebab, kalau ada emansipasi wanita juga harus ada emansipasi laki-laki. Bila mereka menuntut supaya wanita melakukan pekerjaan laki-laki, sebaliknya laki-laki juga wajib melakukan pekerjaan wanita. Kalau demikian bearti ada ketimbangan, ketidakadilan dan bahkan kedholiman dari persamaan hak itu sendiri.
Apabila wanita di tuntut untuk melakukan pekerjaan laki-laki, tetapi mereka juga tetap melakukan pekerjaan yang khusus bisa dikerjakan kaum wanita saja. Maka, yang demikian itu bearti meletakan beban baru di atas pundak kaum wanita. Sedangkan yang seperti itu tidak bisa dikatakan sebagai persamaan hak, tetapi justru kedholiman terhadap kaum wanita. Para wanita harus menilai bahwa orang yang menyerukan persamaan hak tersebut sebagai musuh kita. Begitu pula orang yang menyerukan emansipasi wanita hendaknya menuntut kepada wanita supaya mengerjakan semua pekerjaan laki-laki, termasuk juga yang berat-berat. Tidak hanya memilih yang enak dan mudah saja.
Sumber : Dialog Wanita dan Islam
Penulis : Imam Turmudzi
Monday, May 19, 2014
Berhubungan Intim Menurut Ajaran Islam
Setiap Pasutri pasti menginginkan hubungan
yang romantis. Istimewanya ajaran Islam, aturan ketika di ranjang pun diajarkan
demi mewujudkan keharmonisan rumah tangga. Aturan di sini ada yang menjelaskan
mengenai larangan yang mesti dijauhi, ada pula beberapa hal yang sunnah
(anjuran), ditambah lagi dengan pelurusan terhadap hal-hal yang dianggap tidak
boleh oleh sebagian kalangan padahal asalnya boleh. Semoga dengan semakin
mengetahui aturan-aturan Islam ini, hubungan intim dengan sang istri semakin
mesra dan tidak sampai melanggar yang Allah larang, yang diinginkan hanyalah
ridho Allah.
1 . Disunnahkan bercumbu rayu sebagai pemanasan terlebih dahulu di awal-awal hubungan badan.
Inilah alasan kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk menikahi wanita perawan karena kita pun bisa menikmati manisnya. Ketika Jabir menikah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya padanya,
« هَلْ تَزَوَّجْتَ بِكْرًا أَمْ ثَيِّبًا » . فَقُلْتُ تَزَوَّجْتُ ثَيِّبًا . فَقَالَ « هَلاَّ تَزَوَّجْتَ بِكْرًا تُلاَعِبُهَا وَتُلاَعِبُكَ »
“Apakah engkau menikahi gadis (perawan) atau janda?” “Aku menikahi janda”, kata Jabir. “Kenapa engkau tidak menikahi gadis saja karena engkau bisa bercumbu dengannya dan juga sebaliknya ia bisa bercumbu mesra denganmu?” (HR. Bukhari no. 2967 dan Muslim no. 715). Ibnu Hajar mengatakan bahwa hal ini sebagai isyarat kalau gadis sangat menyenangkan jika diisap lidahnya ketika bermain-main atau menciumnya (Fathul Bari, 9: 122).
2. Menyetubuhi istri di kemaluan, terserah dari depan atau belakang.
Allah Ta’ala berfirman,
نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ
“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki” (QS. Al Baqarah: 223). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Yang namanya ladang (tempat bercocok tanam) pada wanita adalah di kemaluannya yaitu tempat mani bersemai untuk mendapatkan keturunan. Ini adalah dalil bolehnya menyetubuhi istri di kemaluannya, terserah dari arah depan, belakang atau istri dibalikkan.” (Syarh Muslim, 10: 6)
Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata bahwa orang Yahudi berkata kepada kaum muslimin, “Barangsiapa yang menyetubuhi istrinya dari arah belakang, maka anaknya nanti bisa juling (matanya). Turunlah firman Allah Ta’ala,
نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ
“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki” (QS. Al Baqarah: 223). Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مُقْبِلَةً وَمُدْبِرَةً مَا كَانَ فِي الفَرْجِ
“Terserah mau dari arah depan atau belakang selama di kemaluan.” (HR. Ath Thohawi 3: 41 dalam Syarh Ma’anil Atsar dengan sanad yang shahih)
3. Tidak boleh menyetubuhi istri di dubur
Sebagaimana disebutkan dalam surat Al Baqarah ayat 223 di atas bahwa istri adalah seperti ladang kita bercocok tanam. Tempat benih tersebut disemai adalah di kemaluan, bukanlah di dubur sebagaimana kata Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (10: 6).
Hadits yang mendasari larangan ini adalah sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَلْعُونٌ مَنْ أَتَى امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا
“Benar-benar terlaknat orang yang menyetubuhi istrinya di duburnya.” (HR. Ahmad 2: 479. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits tersebut hasan)
Begitu juga sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم-
“Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (HR. Tirmidzi no. 135, Ibnu Majah no. 639. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Ancaman yang ditunjukkan pada dua hadits di atas menunjukkan bahwa perbuatan ini termasuk dosa besar karena disertai laknat (jauh dari rahmat Allah) dan dinyatakan sebagai suatu kekufuran.
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa tidak halal menyetubuhi di dubur sedikit pun baik pada manusia maupun hewan dalam segala macam keadaan.” (Syarh Muslim, 10: 6)
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala sendiri mengharamkan menyetubuhi wanita haid karena adanya haid di kemaluaannya. Bagaimana lagi jika yang disetubuhi adalah tempat yang keluarnya najis mughollazhoh (najis yang berat)? Seks anal tidak dipungkuri lagi termasuk jenis liwath (sodomi). Menurut madzhab Abu Hanifah, Syafi’iyah, pendapat Imam Ahmad dan Hambali, perbuatan seks anal ini haram, tanpa adanya perselisihan di antara mereka. Demikian pula hal ini menjadi pendapat yang nampak pada Imam Malik dan pengikutnya.” (Majmu’ Al Fatawa, 32: 267-268)
4. Tidak boleh menyetubuhi wanita di masa haid
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Kaum muslimin sepakat akan haramnya menyetubuhi wanita haid berdasarkan ayat Al Qur’an dan hadits-hadits yang shahih” (Al Majmu’, 2: 359). Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Menyetubuhi wanita nifas adalah sebagaimana wanita haid yaitu haram berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Majmu’ Al Fatawa, 21: 624)
Dalam hadits disebutkan,
مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم-
“Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (HR. Tirmidzi no. 135, Ibnu Majah no. 639. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Al Muhamili dalam Al Majmu’ (2: 359) menyebutkan bahwa Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid, maka ia telah terjerumus dalam dosa besar.”
Hubungan seks yang dibolehkan dengan wanita haid adalah bercumbu selama tidak melakukan jima’ (senggama) di kemaluan. Dalam hadits disebutkan,
اصْنَعُوا كُلَّ شَىْءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ
“Lakukanlah segala sesuatu (terhadap wanita haid) selain jima’ (di kemaluan).” (HR. Muslim no. 302)
Dalam riwayat yang muttafaqun ‘alaih disebutkan,
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَتْ إِحْدَانَا إِذَا كَانَتْ حَائِضًا ، فَأَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُبَاشِرَهَا ، أَمَرَهَا أَنْ تَتَّزِرَ فِى فَوْرِ حَيْضَتِهَا ثُمَّ يُبَاشِرُهَا . قَالَتْ وَأَيُّكُمْ يَمْلِكُ إِرْبَهُ كَمَا كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَمْلِكُ إِرْبَهُ
Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang mengalami haid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin bercumbu dengannya. Lantas beliau memerintahkannya untuk memakai sarung agar menutupi tempat memancarnya darah haid, kemudian beliau tetap mencumbunya (di atas sarung). Aisyah berkata, “Adakah di antara kalian yang bisa menahan hasratnya (untuk berjima’) sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahannya?” (HR. Bukhari no. 302 dan Muslim no. 293). Imam Nawawi menyebutkan judul bab dari hadits di atas, “Bab mencumbu wanita haid di atas sarungnya”. Artinya di selain tempat keluarnya darah haid atau selain kemaluannya.
5. Jika seorang pria kuat, ia boleh mengulangi hubungan intim untuk kedua kalinya, namun hendaknya berwudhu terlebih dahulu
Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُودَ فَلْيَتَوَضَّأْ
“Jika salah seorang di antara kalian menyetubuhi istrinya, lalu ia ingin mengulanginya kembali, maka berwudhulah” (HR. Muslim no. 308). Perintah wudhu di sini adalah sunnah (anjuran) dan bukan wajib (Syarh Shahih Muslim, 3: 217)
6. Boleh-boleh saja suami istri tidak berpakaian sehingga bisa saling melihat satu dan lainnya
Hal ini dibolehkan karena tidak ada batasan aurat antara suami istri. Kita dapat melihat bukti hal ini dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,
كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَالنَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ مِنْ جَنَابَةٍ
“Aku pernah mandi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu bejana dan kami berdua dalam keadaan junub” (HR. Bukhari no. 263 dan Muslim no. 321). Al-Hafizh lbnu Hajar Al Asqalani rahimahullah berkata, “Ad-Dawudi berdalil dengan hadits ini untuk menyatakan bolehnya seorang suami melihat aurat istrinya dan sebaliknya. Pendapat ini dikuatkan dengan kabar yang diriwayatkan lbnu Hibban dari jalan Sulaiman bin Musa bahwasanya ia ditanya tentang hukum seorang suami melihat aurat istrinya. Maka Sulaiman pun berkata, ‘Aku pernah bertanya kepada ‘Atha tentang hal ini, ia menjawab, ‘Aku pernah menanyakan permasalahan ini kepada ‘Aisyah maka ‘Aisyah membawakan hadits ini dengan maknanya’.” (Fathul Bari, 1: 364).
Sebagai pendukung lagi adalah dari ayat Al Qur’an berikut, Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6)
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela” (QS. Al Mu’minun: 5-6). Ibnu Hazm berkata, “Ayat ini umum, menjaga kemaluan hanya pada istri dan hamba sahaya berarti dibolehkan melihat, menyentuh dan bercampur dengannya.” (Al Muhalla, 10: 33)
Sedangkan hadits,
إِذَا أَتَى أَهْلَهُ فَلاَ يَتَجَرَّدَا تَجَرُّدَ العَيْرَيْن
“Jika seseorang menyetubuhi istrinya, janganlah saling telanjang.” (HR. An Nasai dalam Al Kubro 5: 327 dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6: 163. Abu Zur’ah mengatakan Mandal yang meriwayatkan hadits ini adalah keliru). Penulis Shahih Fiqh Sunnah (3: 188) mengatakan bahwa hadits ini munkar, tidak shahih. Maka asalnya boleh suami istri saling telanjang ketika hubungan intim. Wallahu a’lam.
7. Istri hendaklah tidak menolak ketika diajak hubungan intim oleh suaminya
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِىءَ لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ
“Jika seorang pria mengajak istrinya ke ranjang, lantas si istri enggan memenuhinya, maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu Shubuh” (HR. Bukhari no. 5193 dan Muslim no. 1436). Namun jika istri ada halangan, seperti sakit atau kecapekan, maka itu termasuk uzur dan suami harus memaklumi hal ini. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ini adalah dalil haramnya wanita enggan mendatangi ranjang jika tidak ada uzur. Termasuk haid bukanlah uzur karena suami masih bisa menikmati istri di atas kemaluannya.” (Syarh Shahih Muslim, 10: 7)
8. Jika seseorang tidak sengaja memandang wanita lain, lantas ia begitu takjub, maka segeralah datangi istrinya
Dari Jabir bin ‘Abdillah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau pernah melihat seorang wanita, lalu ia mendatangi istrinya Zainab yang saat itu sedang menyamak kulit miliknya. Lantas beliau menyelasaikan hajatnya (dengan berjima’, hubungan intim), lalu keluar menuju para sahabatnya seraya berkata,
إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِى صُورَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِى نَفْسِهِ
“Sesungguhnya wanita datang dalam rupa setan, dan pergi dalam rupa setan. Jika seorang di antara kalian melihat seorang wanita yang menakjubkan (tanpa sengaja), maka hendaknya ia mendatangi (bersetubuh dengan) istrinya, karena hal itu akan menolak sesuatu (berupa syahwat) yang terdapat pada dirinya” (HR. Muslim no. 1403)
Para ulama berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan seperti ini sebagai penjelasan bagi para sahabat mengenai apa yang mesti mereka lakukan dalam keadaan demikian (yaitu ketika melihat wanita yang tidak halal, pen). Beliau mencontohkan dengan perbuatan dan perkataan sekaligus. Hadits ini juga menunjukkan tidak mengapa mengajak istri untuk hubungan intim di siang hari atau waktu lain yang menyibukkan selama pekerjaan yang ada mungkin ditinggalkan. Karena bisa jadi laki-laki sangat tinggi sekali syahwatnya ketika itu yang bisa jadi membahayakan badan, hati atau pandangannya jika ditunda (Lihat Syarh Shahih Muslim, 9: 179).
9. Tidak boleh menyebarkan rahasia hubungan ranjang
Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِى إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِى إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا
“Sesungguhnya termasuk manusia paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah laki-laki yang menggauli istrinya kemudian dia sebarkan rahasia ranjangnya.” (HR. Muslim no. 1437). Syaikh Abu Malik berkata, “Namun jika ada maslahat syar’i sebagaimana yang dilakukan istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebarkan bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berinteraksi dengan istrinya, maka tidaklah masalah” (Shahih Fiqh Sunnah, 3: 189).
10. Jika seseorang datang dari safar, hendaklah dia mengabarkan istrinya dan jangan datang sembunyi-sembunyi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا قَدِمَ أَحَدُكُمْ لَيْلاً فَلاَ يَأْتِيَنَّ أَهْلَهُ طُرُوْقًا حَتَّى تَسْتَحِدَّ الْمَغِيْبَةُ وَتَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ
“Jika salah seorang dari kalian datang pada malam hari maka janganlah ia mendatangi istrinya. (Berilah kabar terlebih dahulu) agar wanita yang ditinggal suaminya mencukur bulu-bulu kemaluannya dan menyisir rambutnya” (HR. Bukhari no. 5246 dan Muslim no. 715).
Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata,
نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَطْرُقَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ لَيْلاً يَتَخَوَّنُهُمْ أَوْ يَلْتَمِسُ عَثَرَاتِهِمْ
“Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam melarang seseorang mendatangi istrinya di malam hari untuk mencari-cari tahu apakah istrinya berkhianat kepadanya atau untuk mencari-cari kesalahannya” (HR. Muslim no. 715).
11. Boleh menyetubuhi wanita yang sedang menyusui
Dari ‘Aisyah, dari Judaamah binti Wahb, saudara perempuan ‘Ukaasyah, ia berkata bahwasanya ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَنْهَى عَنِ الْغِيلَةِ حَتَّى ذَكَرْتُ أَنَّ الرُّومَ وَفَارِسَ يَصْنَعُونَ ذَلِكَ فَلاَ يَضُرُّ أَوْلاَدَهُمْ
“Sungguh, semula aku ingin melarang (kalian) dari perbuatan ghiilah. Lalu aku melihat bangsa Romawi dan Persia dimana mereka melakukan ghiilah terhadap anak-anak mereka. Ternyata hal itu tidak membahayakan anak-anak mereka” (HR. Muslim no. 1442). Ghiilah bisa bermakna menyutubuhi wanita yang sedang menyusui. Ada pula yang mengartikan wanita menyusui yang sedang hamil (Lihat Syarh Shahih Muslim, 10: 16). Kebolehan menyetubuhi wanita yang sedang menyusui tentu saja dengan melihat maslahat dan mudhorot (bahaya) sebagai pertimbangan.
Dari artikel 'Aturan dalam Hubungan Intim — Muslim.Or.Id'
sumber : Muslim.Or.Id – Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah
Friday, May 16, 2014
Pandangan Islam Tentang Pernikahan Beda Agama (2)
Al Qur’an berisi Wahyu Allah SWT.
Kita Islam Sepakat “Tidak Boleh dan tidak dibenarkan Mengurangi atau menambah apa yang terdapat didlam Kitab Suci Al Qur’an walaupun hanya satu huruf ” pun Allah SWT tidak mungkin salah dalam mewhyukan Firman-firmanNYA Manusia Yang pasti salah dalam Perlakuannya.
Kita Islam Sepakat “Tidak Boleh dan tidak dibenarkan Mengurangi atau menambah apa yang terdapat didlam Kitab Suci Al Qur’an walaupun hanya satu huruf ” pun Allah SWT tidak mungkin salah dalam mewhyukan Firman-firmanNYA Manusia Yang pasti salah dalam Perlakuannya.
Al Qur’an . Al Maa’idah Ayat 5
Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan[402] diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya,…”
Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan[402] diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya,…”
Pertanyaannya Apakah Manusia
lebih mengetahui dari pada Allah SWT…?
Atau Allah SWT Lebih mengetahui dari pada manusia…?
Atau Allah SWT Lebih mengetahui dari pada manusia…?
Al Qur’an . Al Maa’idah Ayat 5;…
sangat jelas akan Kehalalannya Menikahi wanita Ahli Kitab
Apakah Ayat Surah Al Maa’adah ayat 5 ini akan dihapuskan oleh Manusia…dengan merubah Mengharamkan…??( maha suci Allah dengan segala Firmannya )
Apakah Ayat Surah Al Maa’adah ayat 5 ini akan dihapuskan oleh Manusia…dengan merubah Mengharamkan…??( maha suci Allah dengan segala Firmannya )
Ahli Kitab tidak lain dan tidak
bukan yang mempelajari Kitab dalam hal ini adalah “Kitab Injil” yang Islam
mengimani kepada kitab Injil yang dibawa oleh Nabi Isa As
Baik kita katakan “Injil yang sekarang” sudah tidak Asli
Baik kita katakan “Injil yang sekarang” sudah tidak Asli
Namun mengapa Al Qur’an . Al Maa’idah Ayat 5; tetap mengatakan “Dihalalkan”
(sedangkan Al Qur’an adalah bersifat Universal / abadi sampai Akhir Zaman)
Pertanyaannya Apakah Manusia lebih mengetahui dari pada Allah SWT…?
Atau Allah SWT Lebih mengetahui dari pada manusia…?
HR (Ibn Ishaq mencatat hadits )
“Demi Allah Kamu tidak dapat menyandarkan apapun kepada sebagai beban saya. Aku hanya membolehkan apa yang Al-Qur’an bolehkan dan melarang hanya apa Al-Quran larang.”
“Demi Allah Kamu tidak dapat menyandarkan apapun kepada sebagai beban saya. Aku hanya membolehkan apa yang Al-Qur’an bolehkan dan melarang hanya apa Al-Quran larang.”
Sedemikian KItab Injil di
bengkokkan Namun “Injil yang sekarang” masih mengandung Agama Ajaran Samawi (
Tauhid) dengan bukti-bukti didalam “Kitab Injil yang sekarang” pun…
AJARAN TAUHID
“ulangan” pasal 4 ayat 35
“Tuhan itulah ALLAH” dan KECUALI TUHAN YANG ESA TIADALAH YANG LAIN LAGI”
“ulangan” pasal 4 ayat 35
“Tuhan itulah ALLAH” dan KECUALI TUHAN YANG ESA TIADALAH YANG LAIN LAGI”
“Markus” pasal 12 ayat 29
“Dengarlah olehmu HAI BANI ISRAEL ADAPUN “ALLAH TUHAN KITA” IALAH TUHAN YANG ESA”
“Dengarlah olehmu HAI BANI ISRAEL ADAPUN “ALLAH TUHAN KITA” IALAH TUHAN YANG ESA”
PERNYATAAN UTUSAN ALLAH
“Yohanes” pasal 17 ayat 8.
“”Karena SEGALA FIRMAN yang telah ENGKAU FIRMANKAN KEPADAKU, itulah AKU SAMPAIKAN kepada mereka itu, dan mereka itu sudah menerima dia, dan mengetagui dengan sesungguhnya BAHWA AKU DATANG DARI PADAMU, dan bagi mereka itu percaya bahwa ENGKAU YANG MENYURUH AKU”
“Yohanes” pasal 17 ayat 8.
“”Karena SEGALA FIRMAN yang telah ENGKAU FIRMANKAN KEPADAKU, itulah AKU SAMPAIKAN kepada mereka itu, dan mereka itu sudah menerima dia, dan mengetagui dengan sesungguhnya BAHWA AKU DATANG DARI PADAMU, dan bagi mereka itu percaya bahwa ENGKAU YANG MENYURUH AKU”
“Yohanes” pasal 12 ayat 45″Dan
barang siapa yang melihat aku, dia melihat sama dia YANG MENGUTUS AKU”
DAN, Masih Banyak ayat-ayat yang
mengandung Ajaran Samawi
AJARAN TAUROT
Injil “Ulangan” 5:7-2 ( 3 dari !0 Perintah Tuhan)
1). JANGAN ADA PADAMU TUHAN LAIN DI DIHADAPANKU
2). JANGAN MEMBUAT PATUNG YANG
MENYERUPAI APAPUN YANG DILANGIT ATAS ATAU YANG ADA DIBUMI DI BAWAH, ATAU YANG
ADA DI DALAM AIR DIBAWAH BUMI. JANGAN SUJUD MENYEMBAH KEPADANYA, ATAU BERIBADAH
KEPADANYA.
3).JANGAN MENYEBUT NAMA TUHAN,
ALLAHMU DENGAN SEMBARANGAN
Dari hal “Kitab Injil yang
Sekarang” telah banyak ; Pendeta;Pastur;Uskup dan Biarawati yang mendalami
Injilnya Menemukan Kebenaran Tuhan itu adalah ALLAH juga perbedaan-perbedaan /
selisih antara ayat satu dengan ayat yang lainnya di dalam Injilnya dan
dikaitkan dengan Al Qur’an Mereka Kemudian menemukan jalan kebenaran Al Qur’an
yang kemudian Menjadi Mualaf (Akhirnya memeluk Agama Islam)- Bahkan Menjadi
Penebar agama Islam didalam Lingkungan Nasrani,Katolik;Kristen
Laki-laki dalam Rumah tangga adalah
Pemimpin dan akan dimintai tanggung jawabnya kelak atas Kepemimpinannya.
Seorang Muslim menikahi wanita Ahli Kitab ( Nasrani;Katolik;Kristen yang memegang Kitab Injil yang Sekarang) dapat memberi pengertian kepada wanita Istrinya, tentang Kitab yang dibawanya ( Agama yang dipeluknya/Nasrani;Kristen;Katolik) bahwa Kitabnya mengajarkan tentang Tuhan itu adalah ALLAH YANG ESA, dan Isa (Yesus bagi Mereka ) adalah Utusan Allah.
Maka baginya akan lebih mudah untuk membimbing pengetahuan Istrinya kedalam Agama Islam.
Al Qur’an . Al Maa’idah Ayat 5; sangat jelas kata-kata yang terdapat didalamnya
“DIHALALKAN MENGAWINI WANITA AHLI KITAB” Dalih Ahli Kitab yang sekarang tidak ada rasanya suatu dalih yang sulit diterima mengingat Al Qur’an . Al Maa’idah Ayat 5 sampai sekarang masih ada dan tidak berubah sejak mula adanya serta menyebutkan Ahli Kitab
( sedangkan kita sepakat Al Qur’an bersifat Universal / Abadi sampai Akhir Zaman).
Seorang Muslim menikahi wanita Ahli Kitab ( Nasrani;Katolik;Kristen yang memegang Kitab Injil yang Sekarang) dapat memberi pengertian kepada wanita Istrinya, tentang Kitab yang dibawanya ( Agama yang dipeluknya/Nasrani;Kristen;Katolik) bahwa Kitabnya mengajarkan tentang Tuhan itu adalah ALLAH YANG ESA, dan Isa (Yesus bagi Mereka ) adalah Utusan Allah.
Maka baginya akan lebih mudah untuk membimbing pengetahuan Istrinya kedalam Agama Islam.
Al Qur’an . Al Maa’idah Ayat 5; sangat jelas kata-kata yang terdapat didalamnya
“DIHALALKAN MENGAWINI WANITA AHLI KITAB” Dalih Ahli Kitab yang sekarang tidak ada rasanya suatu dalih yang sulit diterima mengingat Al Qur’an . Al Maa’idah Ayat 5 sampai sekarang masih ada dan tidak berubah sejak mula adanya serta menyebutkan Ahli Kitab
( sedangkan kita sepakat Al Qur’an bersifat Universal / Abadi sampai Akhir Zaman).
Justru yang Kita kawatirkan
adalah kata akhir dari Al Maa’idah Ayat 5
“….Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.
“….Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.
HR (Ibn Ishaq mencatat hadits )
“Demi Allah Kamu tidak dapat menyandarkan apapun kepada sebagai beban saya. Aku hanya membolehkan apa yang Al-Qur’an bolehkan dan melarang hanya apa Al-Quran larang.”
“Demi Allah Kamu tidak dapat menyandarkan apapun kepada sebagai beban saya. Aku hanya membolehkan apa yang Al-Qur’an bolehkan dan melarang hanya apa Al-Quran larang.”
PERTANYAAN BESAR
Menggunakan dasar Manakah Menyandarkan Ketetapan
Hukum Islam berdasar Al Qu’an Al Maa’idah Ayat 5
Hukum Buatan Manusia yang berlawanan dengan Al Qur’an Al Maa’idah Ayat 5
Sesungguhnya dapat dilihat adanya
KEKELIRUAN Manusia dalam Menjalankan
Dan Allah Swt Maha Benar dalam segala FirmanNYA.
Dan Allah Swt Maha Benar dalam segala FirmanNYA.
Al Qur’an Al Maa’idah Ayat 5.
HR
“Musrik itu bagaikan semut hitam diatas batu hitam di kegelapan malam”
“Musrik itu bagaikan semut hitam diatas batu hitam di kegelapan malam”
Manusia akan sangat Rentan dan
tidak menyadari akan prilakunya kearah Kemusrikan
dan itu tidak terkecuali beragama apapun Juga.
dan itu tidak terkecuali beragama apapun Juga.
Demikian juga dengan Kafir
HRBarang siapa dengan sengaja meninggalkan Sholat maka dia telah kafir.
Pandangan Islam Tentang Pernikahan Beda Agama (1)
Pernikahan merupakan salah satu jenis ibadah dalam Islam. Setiap
manusia yang telah dewasa, dan sehat jasmani rohani pasti membutuhkan teman
hidup. Teman hidup yang dapat memenuhi kebutuhan biologisnya, yang dapat
mencintai dan dicintai, yang dapat mengasihi dan dikasihi, serta yang diajak
bekerja sama demi mewujudkan ketentraman, kedamaian dan kesejahteraan dalam
hidup berumah tangga.
Menurut bahasa, nikah berarti berkumpul atau bersatu. Menurut
istilah, nikah adalah melakukan suatu akad atau perjanjian untuk mengikatkan
diri antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan serta menghalalkan
hubungan tubuh antara keduanya atas dasar sukarela dan persetujuan bersama demi
mewujudkan keluarga bahagia yang diridhai oleh Allah SWT.
Hukum
Pernikahan Dalam Islam
Menurut sebagian besar Ulama’, hukum asal menikah adalah mubah,
yang artinya boleh dikerjakan dan boleh tidak. Apabila dikerjakan tidak
mendapatkan pahala, dan jika tidak dikerjakan tidak mendapatkan dosa. Namun
menurut saya pribadi karena Nabiullah Muhammad SAW melakukannya, itu dapat
diartikan juga bahwa pernikahan itu sunnah berdasarkan perbuatan yang pernah
dilakukan oleh Beliau.
Akan tetapi hukum pernikahan dapat berubah menjadi sunnah,
wajib, makruh bahkan haram, tergantung kondisi orang yang akan menikah
tersebut.
- Pernikahan
Yang Dihukumi Sunnah
Hukum menikah akan berubah menjadi sunnah apabila orang yang
ingin melakukan pernikahan tersebut mampu menikah dalam hal kesiapan jasmani,
rohani, mental maupun meteriil dan mampu menahan perbuatan zina walaupun dia
tidak segera menikah. Sebagaimana sabda Rasullullah SAW :
“Wahai para
pemuda, jika diantara kalian sudah memiliki kemampuan untuk menikah, maka
hendaklah dia menikah, karena pernikahan itu dapat menjaga pandangan mata dan
lebih dapat memelihara kelamin (kehormatan); dan barang siapa tidak mampu
menikah, hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu menjadi penjaga baginya.” (HR.
Bukhari Muslim)
- Pernikahan
Yang Dihukumi Wajib
Hukum menikah akan berubah menjadi wajib apabila orang yang
ingin melakukan pernikahan tersebut ingin menikah, mampu menikah dalam hal
kesiapan jasmani, rohani, mental maupun meteriil dan ia khawatir apabila ia
tidak segera menikah ia khawatir akan berbuat zina. Maka wajib baginya untuk
segera menikah
- Pernikahan
Yang Dihukumi Makruh
Hukum menikah akan berubah menjadi makruh apabila orang yang
ingin melakukan pernikahan tersebut belum mampu dalam salah satu hal jasmani,
rohani, mental maupun meteriil dalam menafkahi keluarganya kelak
- Pernikahan
Yang Dihukumi Haram
Hukum menikah akan berubah menjadi haram apabila orang yang
ingin melakukan pernikahan tersebut bermaksud untuk menyakiti salah satu pihak
dalam pernikahan tersebut, baik menyakiti jasmani, rohani maupun menyakiti
secara materiil.
Pembagian Pernikahan Beda Agama
Dalam Islam
Didalam kehidupan kita saat ini pernikahan antara dua orang yang
se-agama merupakan hal yang biasa dan memang itu yang dianjurkan dalam agama
kita. Tetapi dengan mengatasnamakan cinta, saat ini lazim (namun belum tentu
diperbolehkan agama) dilakukan pernikahan beda agama atau nikah campur. Hal ini
sebenarnya sudah diatur dengan secara baik di dalam agama kita, agama Islam.
Secara umum pernikahan lintas agama dalam Islam dapat dibagi
menjadi dua bagian, yaitu:
1. Pernikahan antara pria
muslim dengan wanita non-muslim
2. Pernikahan antara pria
non-muslim dengan wanita muslimah
Namun sebelum kita membahas tentang pernikahan tersebut diatas,
sebaiknya kita perlu mengetahui tentang pengertian non-muslim di dalam Islam.
Golongan non-muslim sendiri dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
- Golongan
Orang Musyrik
Menurut Kitab Rowaa’iul
Bayyan tafsir Ayyah Arkam juz 1 halaman
282 karya As Syech Muhammad Ali As Shobuni, orang musyrik ialah orang-orang
yang telah berani menyekutukan ALLAH SWT dengan mahluk-NYA (penyembah patung,
berhala atau semacamnya).
Beberapa contoh golongan orang musyrik antara lain Majusi yang
menyembah api atau matahari, Shabi’in, Musyrikin, dan beberapa agama di
Indonesia yang menyembah patung, berhala atau sejenisnya
- Golongan
Ahli Kitab
Menurut Kitab Rowaa’iul
Bayyan tafsir Ayyah Arkam juz 1 halaman
As Syech Muhammad Ali As Shobuni, Ahli Kitab adalah mereka yang berpegang teguh
pada Kitab Taurat yaitu agama Nabi Musa As. atau mereka yanga berpegang teguh
pada Kitab Injil yaitu agama Nabi Isa As. Atau banyak pula yang menyebut
sebagai agama samawi atau agama yang diturunkan langsung dari langit yaitu
Yahudi dan Nasrani.
Mengenai istilah Ahli Kitab ini, terdapat perbedaan pendapat
diantara kalangan Ulama’. Sebagian Ulama’ berpendapat bahwa mereka semua kaum
Nasrani termasuk yang tinggal di Indonesia ialah termasuk Ahli Kitab. Namun ada
juga yang berpendapat bahwa Ahli Kitab ialah mereka yang nasabnya (menurut
silsilah sejak nenek moyangnya dahulu) ketika diturunkan sudah memeluk agama
Nasrani. Jadi kaum Nasrani di Indonesia, berdasarkan pendapat sebagian Ulama’
tidak termasuk Ahli Kitab.
1.
Pernikahan Antara Pria Muslim Dengan Wanita Non-Muslim
Didalam Islam, pernikahan antara antara pria muslim dengan
wanita non-muslim Ahli Kitab itu, menurut pendapat sebagian Ulama’
diperbolehkan. Hal ini didasarkan pada Firman ALLAH SWT dalam Al-Quran Surat
Al-Maidah ayat 5 yang artinya
“(Dan dihalalkan
menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan dan dari kalangan
orang-orang yang beriman dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan dan
dari kalangan Ahli Kitab sebelum kamu ”.
Namun ada beberapa syarat yang diajukan apabila akan melaksanakan
hal tersebut, yaitu :
- Jelas
Nasabnya
Menurut silsilah atau menurut garis keturunannya sejak nenek
moyangnya adalah Ahli Kitab, jadi seperti kesimpulan para Ulama’ di atas,
sebagian besar kaum Nasrani di Indonesia bukan merupakan golongan Ahli Kitab,
seperti halnya juga kaum Tionghoa yang beragama Nasrani di Indonesia.
- Benar-benar
Berpegang Teguh Pada Kitab Taurat dan Kitab Injil
Apabila memang apabila mereka berpegang teguh kepada Kitab
Taurat dan atau Injil (yang benar-benar asli) pasti mereka pada akhirnya akan
masuk Islam, karena sebenarnya pada Kitab Taurat dan Injil yang asli telah
disebutkan bahwa akan datang seorang Nabi setelah Nabi Musa As dan Nabi Isa As,
yaitu Nabiullah Muhammad SAW. Dan apabila mereka mengimani akan adanya
Nabiullah Muhammad SAW, pasti mereka akan masuk Islam
- Wanita
Ahli Kitab tersebut nantinya mampu menjaga anak-anaknya kelak dari bahaya
fitnah
Ada beberapa Hadits Riwayat Umar bin Khattab, Usman bin Affan,
Sahabat Thalhah, Sahabat Hudzaifah, Sahabat Salman, Sahabat Jabir dan beberapa
Sahabat lainnya, semua memperbolehkan pria muslim menikahi wanita Ahli Kitab.
Sahabat Umar bin Khattab pernah berkata
“Pria Muslim
diperbolehkan menikah dengan wanita Ahli Kitab dan tidak diperbolehkan pria
Ahli Kitab menikah dengan wanita muslimah”.
Bahkan Sahabat Hudzaifah dan Sahabat Thalhah pernah menikah
dengan wanita Ahli Kitab tetapi akhirnya wanita tersebut masuk Islam. Dengan
demikian, keputusan untuk memperbolehkan menikah dengan wanita Ahli Kitab sudah
merupakan Ijma’ (artinya kesepakatan yakni kesepakatan para ulama dalam
menetapkan suatu hukum hukum dalam agama berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits dalam
suatu perkara yang terjadi.) para Sahabat. Ulama’ besar Ibnu Al-Mundzir
mengatakan bahwa jika ada Ulama’ Salaf yang mengharamkan pernikahan tersebut
diatas, maka riwayat tersebut dinilai tidak Shahih
Demikian pula Fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) Nomor:
4/MUNAS VII/MUI/8/2005 per-tanggal 9-22 Jumadil Akhir 1426 H. / 26-29 Juli 2005
M (disini) tentang haramnya pernikahan pria muslim dengan wanita Ahli
Kitab berdasarkan pertimbangan kemaslahatan. Meskipun fatwa itu diusung dengan
merujuk pada beberapa dalil naqli, tetap saja menghapus kebolehan pria muslim
menikah dengan wanita Ahli Kitab sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Maidah ayat
5 tersebut diatas. Dan rupanya fatwa itu dikeluarkan karena didorong oleh
keinsafan akan adanya persaingan antara agama. Para Ulama’ menganggap bahwa
persaingan tersebut telah mencapai titik rawan bagi kepentingan dan pertumbuhan
masyarakat muslim
Namun ada pula Ulama’ yang secara tegas mengharamkan pernikahan
antara pria muslim dengan wanita Ahli Kitab. Para Ulama’ ini mendasarkan
pendapatnya pada Firman ALLAH Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 221 yang berarti
“Dan janganlah
kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya
wanita budak yang muslim itu lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia
menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan
wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman . sesungguhnya budak mukmin itu
lebih baik daripada musyrik, walaupun mereka menarik hatimu. Mereka mengajak ke
neraka, sedangkan ALLAH mengajak ke surga dan ampunan dengan ijinNYA. Dan ALLAH
menerangkan ayat-ayatNYA (perintah-perintahNYA) kepada manusia supaya mereka
mengambil pelajaran”
Dan juga Al-Quran Surat Al-Mumtahanah ayat 10 yang berarti
“Hai
orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan
yang beriman, hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. ALLAH mengetahui tentang
keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar)
beriman maka janganlah kamu mengembalikan mereka kepada (suami-suami) mereka
orang-orang kafir. Mereka tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada
(suami-suami) mereka, mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu
mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu
tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan kafir; dan hendaklah
kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang
telah mereka bayarkan. Demikianlah hukum ALLAH yang ditetapkanNYA diantara
kamu, dan ALLAH Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”
Disamping itu, mereka juga berpegangan kepada perkataan Sahabat
Abdullah bin Umar yang berarti
“tiada
kemusyrikan yang paling besar daripada wanita yang meyakini Isa bin Maryam
sebagai tuhannya”.
Dalam Kitab Al-Mughni juz 9 halaman 545 karya Imam Ibnu Qudamah, Ibnu Abbas pernah
menyatakan, hukum pernikahan dalam QS. Al-Baqarah ayat 221 dan QS.
Al-Mumtahanah ayat 10 diatas telah dihapus (mansukh) oleh QS. Al-Maidah ayat 5.
Karenanya yang berlaku adalah hukum dibolehkannya pernikahan pria muslim dengan
wanita Ahli Kitab
Sedangkan pernikahan antara pria muslim dengan wanita musyrikah,
menurut kesepakatan para Ulama’ tetap diharamkan, apapun alasannya, karena
dikhawatirkan dapat menimbulkan fitnah
2.
Pernikahan Antara Pria Non-Muslim Dengan Wanita Muslimah
Pernikahan antara wanita muslimah dengan pria non-muslim,
menurut kalangan Ulama’ tetap diharamkan, baik menikah dengan pria Ahli Kitab
maupun dengan seorang pria musyrik. Hal ini dikhawatirkan wanita yang telah
menikah dengan pria non-muslim tidak dapat menahan godaan yang akan datang
kepadanya. Seperti halnya wanita tersebut tidak dapat menolak permintaan sang
suami yang mungkin bertentangang dengan syariat Islam, atau wanita itu tidak
dapat menahan godaan yang datang dari lingkungan suami yang tidak seiman yang
mungkin cenderung lebih dominan
Dalil naqli pernyataan tentang haramnya pernikahan seorang
wanita muslimah dengan pria non-muslim adalah Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 5,
yang menyatakan bahwa ALLAH SWT hanya memperbolehkan pernikahan seorang pria
muslim dengan wanita Ahli Kitab, tidak sebaliknya. Seandainya pernikahan ini
diperbolehkan, maka ALLAH SWT pasti akan menegaskannya di dalam Al-Quran.
Karenanya , berdasarkan mahfum al-mukhalafah, secara implisit ALLAH SWT
melarang pernikahan tersebut.
Dalam Kitab tafsir Al-Tabati karya Imam Ibnu Jarir At-Tabari,
menuturkan Hadits Riwayat Jabir bin Abdillah bahwa Nabi Muhammad SAW pernah
bersabda
“Kami (kaum
muslim) menikahi wanita Ahli Kitab, tetapi mereka (pria Ahli Kitab) tidak boleh
menikahi wanita kami”
Menurut Imam Ibnu Jarir At-Tabari, meskipun sanad-sanad Hadits
tersebut sedikit bermasalah, maknanya telah disepakati oleh kaum muslimin, maka
ke-hujjah-annya dapat dipertanggungjawabkan.
Kesimpulan
Sebenarnya pernikahan antara pria muslim dengan wanita Ahli
Kitab diperbolehkan dalam Islam, tetapi karena saat ini sangat sulit sekali
ditemui wanita Ahli Kitab yang benar-benar “Ahli Kitab”, maka saya dapat
simpulkan bahwa pernikahan beda agama yang ada saat ini tidak dapat dikatakan
sah karena hampir tidak ada wanita Ahli Kitab yang benar-benar berpegang teguh
kepada Kitab Taurat dan atau Kitab Injil. Karena kedua Kitab suci tersebut yang
ada saat ini bukan Kitab Taurat dan Injil yang asli. Sedangkan bagi wanita
muslimah yang menikah dengan pria non-muslim, baik pria musyrik maupun pria
Ahli Kitab tetap dihukumi haram
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda
“Wanita itu
dinikahi karena empat hal; karena hartanya; karena keturunannya; karena
kecantikannya dan karena baik kualitas agamanya. Maka pilihlah wanita yang baik
kualitas agamanya, niscaya kalian akan beruntung”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka bagi kaum muslimin dan muslimah, alasan pernikahan beda
agama dengan alasan cinta, kesamaan hak, kebersamaan, toleransi atau apapun
alasannya tidak dapat dibenarkan.
Perlu pula ditegaskan bahwa masalah pernikahan pria muslim
dengan wanita Ahli Kitab hanyalah suatu perbuatan yang dihukumi boleh
dilakukan, namun bukan anjuran, apalagi perintah. Karenanya pernikahan yang
paling ideal dan yang bisa membawa kita selamat di dunia maupun akhirat serta
membawa keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah
adalah pernikahan dengan orang seagama yaitu Islam.
Wallahu ‘alam bisshowaab
bersambung...
Subscribe to:
Comments (Atom)
