Friday, June 27, 2014

Seputar Ramadhan (1)



KEISTIMEWAAN BULAN RAMADHAN
Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 177 :



Artinya : “Orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan, mereka itulah orang-orag yang benar imannya dan merekalah orang yang bertakwa.”

Marhaban wa-ahlan yaa romadhoonu

Artinya : “Selamat datang ya Ramadhan”

Ucapan itulah yang senantiasa harus disampaikan oleh setiap umat islam dalam tamu mulia, yaitu bulan Ramadhan. Bulan yang dinantikan kehadirannya oleh setiap muslim dan muslimat dalam suasana keistimewaan.
Ramadhan adalah bulan yang dirindukan umat beriman. Sebab dalam bulan yang berkah itu Allah SWT banyak memberikan kenikmatan dan kebaikan.

RAMADHAN BULAN MULIA
Beberapa nama lain Ramadhan menunjukan kemuliaan dan keutamaan bulan ini. Ia dinamakan syahrul Mubarak, karena didalamnya banyak terdapat barakah Allah Ta’ala. Disebut syahrul fathi, karena didalamnya terdapat kemenangan umat islam atas nafsunya. Kemenagan hak atas kebatilan. Kemenangan keimanan atas kekufuran. Disebut juga syahrul ‘adzim, karena agung dan mulia. Juga dinamakan syahrul qur’an, karena pada bulan ini Al Qur’an diturunkan, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 185 :



Artinya : “Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan dari petunjuk itu, serta pembeda antara haq dengan yang bathil”.

Kemuliaan lain yang dimiliki oleh bulan Ramadhan adalah adanya malam kemuliaan (Lailatul qadar). Dalam bulan suci ini Allah Ta’ala melipatgandakan pahala kebaikan. Amalan sunnah dinilai dengan amalan wajib. Amalan wajib dilipatgandakan sampai tujuh puluh kali lipat. Di dalam bulan Ramadhan ini seluruh umat islam di berbagai tempat melaksanakan ibadah wajib, yakni puasa/shaum Ramadhan.

Shaum memiliki nilai pendidikan yang amat tinggi. Sejak dari menahan nafsu yang selalu bergejolak, membiasakan disiplin dalam taat beribadah dan bekerja, bahkan menumbuhkan rasa kebersamaan (ta’awun) dan persatuan.

Hal yang amat dijaga dan diarahkan kepada yang baik ketika sedang melakukan shaum adalah dorongan syahwat perut dan kemaluan. Dua hal yang sering menjerumuskan manusia. Karena itu makan minum dan melakukan hubungan antara suami istri pada siang hari di bulan Ramadhan bisa membatalkan puasa.

Syahwat perut dan kemaluan merupakan dua hawa nafsu yang paling kuat pada diri manusia. Jika ia dierturutkan, banyak menjerumuskan manusia ke dalam lembah nista. Tentunya korupsi, pungli, ketidakadilan, penyalah gunaan kekuasaan, pelanggaran terhadap hak asasi seseorang, sering terjadi karena syahwat perut dan kemaluan.

Dalam bulan Ramadhan ini umat islam dididik secara efektif untuk menjadi orang-orang yang bersih jiwanya sehingga melahirkan amal dan perbuatan terpuji. Puasa tidak sekedar aktifitas fisik, meninggalkan makan dan minum, dan hubungan suami istri, bukan sekedar kegiatan rutin setiap bulan Ramadhan. Lebih dari itu puasa adalah pengendalian diri dan penghambaan (Ubudiyah) mutlak kepada Allah dengan jalan taat sepenuhnya kepada sya’riat islam (peraturan hukum islam).

PUASA RAMADHAN DAN JIHAD
Banyak kaum muslimin yang kurang menyadari peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di bulan Ramadhan. Padahal menilik sejarah, bulan Ramadhan memiliki nilai sejarah dan perubahan yang besar dalam pasang surutnya dakwah islamiah.
Di antara peristiwa-peristiwa itu adalah turunnya Al Quran, terjadi Perang Badar, pembukaan kota Mekkah, terjadi sebagian rentetan Perang tabuk pada tahun kesembilan Hijriah, penyiaran agama islam di Yaman pada tahun kesepuluh Hijriah, peristiwa ‘ainu jalut dan pembukaan kota Andalus.
Perang Badar terjadi pada tanggal tujuh belas Ramadhan pada tahun kedua Hijriah selama tiga hari. Inilah perang besar pertama dan konfrontasi langsung dua seteru besar. Antara pembela panji-panji tauhid, Rasulullah dan kaum muslimin melawan pendukung kemusrikan dan kejahiliahan Quraisy. Sekitar tiga ratus pasukan mukminin dengan persenjataan lengkap dan logistic yang memadai. Inilah perang hidup atau mati yang mentukan nasib islam dan umat islam.
Sejarah mencatat, pasukan kecil kaum muslimin itu yang ditopang dengan iman yang kokoh, semnagat yang tinggi dan rasa tawakal yang penuh keberhasilan mengalahkan kafir Quraisy yang besar.

Firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah 249 :


Artinya : “Dan betapa banyak pasukan yang sedikit mengalahkan golongan yang banyak (besar) dengan izin Allah”.

Sedangkan peristiwa pembukaan kota Mekkah sepuluh ribu pasukan mukminin dipimpin langsung oleh Nabi menaklukan Mekkah tanpa perlawanan. Mekkah Quraisy di kala di kuasai Quraisy yang sebelumnya tampak seakan-akan kuat dan besar, hari itu ibarat bangunan tanpa penyaggah. Rapuh tanpa kekuatan. Sesungguhnya kemenangan atas Mekkah, puncak keberhasilan Nabi menggerogoti kekuatan kafir dari dalam. Selama ini sudah banyak sekutu-sekutu Quraisy di Jazarah Arab yang dikalahkan oleh Nabi SAW. ada yang melalui penaklukan dengan taktik serangan mendadak (mughattah) ada pula yang melalui perjanjian damai, hubungan dagang dan sebagainya. Hingga praktis basis-basis kekuatan Quraisy dikuasai oleh Nabi dan kaum mukminin.

Banyak peperangan menegakkan agama islam terjadi di bulan Ramadhan. Banyak pula mujahidin dalam keadaan berpuasa, ketika menghadapai musuh di medan perang, ada juga kemudian yang berbuka karena tak kuat. Di dalam keduanya terdapat kebaikan.
Muhammad bin Hanafiyah meriwayatkan : Aku melihat Abu Amr Al Anshari ketika terkena panah, beliau berkata kepada pelayannya. “Tutuplah aku denga perisai”, sambil mencabut panahnya dengan pelan sampai dia wafat sebelum matahari terbenam dan beliau waktu itu dalam keadaan shaum.

Pada hari kelima terakhir bulan Ramadhan tahun kedelapan Hijriah Khalid bin Walid menyerbu tempat peribadatan Tuhan ‘Uzza di sebuah kebun kurma, seraya berkata kepada Nabi:

Tilkal ‘uzzaa walaa tu’badu Abadan.
Artinya : “Itu Dia Tuhan Uzza dan tak akan pernah disembah selamanya.”

Dan pada tahun kesembilan Hijriah orang-orang Bani Tsaqif dari Thaif datang menemui Rasulullah hendak masuk islam, sekaligus pada tahun itu pula mereka menghancurkan patung Tuhan Lata yang sebelumnya mereka sembah.

Tidak lupa pula pada tahun 479 Hijriah tanggal 25 Ramadhan bertepatan Jumat terjadi peristiwa Zallaqah (ketika Sahl berada di suatu tempat dekat Portugis) atau yang disebut dengan hari Urubah dan Islam, pada waktu itu tentara islam di Andalusia di bawah komando Yusuf bin Tasyifiin menang atas tentara Faranjah yang jumlahnya mencapai 1000 tentara di bawah komando Faunus.

Pesistiwa ‘ainu Jalut (sebuah tempat terletak di antara Bisan dan Nabilus) terjadi pada Jumat pagi, tanggal 15 ramadhan, tahun 658 Hijriah bertepatan dengan tanggal 3 ailul (September) tahun 1260 Miladiyah di bawah pimpinan Sultan Quthr sebagai sultan raja-raja Mesir, setelah berteriak dengan lantang “WAISLAAMAH” dan menang atas Mongol yang mundur karena tidak dapat menguasai sehingga pada akhirnya Sultan Quthur dapat menyatukan Mesir dengan Syam.

Dan merupakan peristiwa penting juga ialah pembukaan kota Andaulus yang terjadi tanggal 28 Ramadhan tahun 92 Hijriah bertepatan dengan tanggal 19 Juli tahun 711 Miladiyah, di bawah komando Thariq bin Ziyad setelah ia dapat mengusir (mendudukan) Rudrik sebagai pucuk pimpinan tentara-tentara Quuth di Hasimah yang kemudian yang kemudian dikenal dengan peristiwa “Buhairah”. Setelah ia menguasa Jabal Thariq lalu ia bakar perahunya, seraya berkata di hadapan para tentaranya” “Lautan luas ada di belakang kalian dan musuh-musuh itu datang dari hadapan kalian.” Dan setelah beres ia juga membuka kota Qurnathah serta Thalithalah sebagai benteng pertahanan kota Andaluisa.

bersambung...

Seputar Ramadhan (2)


RAMADHAN BULAN FURQAN
Pada masa kekhalifahan pelanjut perjuangan dakwah Rasulullah, program dakwah dan perluasan wilayah tak pernah mengalami istirahat karena datangnya Ramadhan. Perluasan ke timur dan ke barat, utara dan selatan berjalan terus dengan penuh semangat.

Panglima besar Khalid bin Walid pernah menghabiskan masa Ramadhan 12 Hijriah untuk suatu pengepungan kota Al firadh, kota yang terletak di perbatasan Irak dan Syria yang dipertahankan oleh suku Tighlab Iyyad dan Tammar dan diperkuat pula oleh sekutu mereka dari Parsi dan Bizamtium (Roma Timur). Gema takbir akhirnya bersahutan memenuhi seluruh penjuru kota setelah melalui pertempuran dasyat. Gema takbir sebagai tanda kemenangan atas orang kafir. Dan Thariq Atthabari mencatat pihak musuh menderita kerugian mendekati 100.000 jiwa melayang.

Selain itu Ramadan juga melahirkan sikap furqan (pembeda). Jika seorang mukmin atau muslim melakukan shaum, tapi tidak melahirkan sikap furqan, maka shaum itu tidak memiliki atsar (bekas) dan itu berarti tidak ada mamfaatnya, semakin tinggi tingkat shaum seseorang, maka ia akan semakin memiliki jiwa furqan yang tinggi. Mereka (mukmin) akan semakin sensitif melihat hal-hal yang bertentangan dengan syari’ah dan aqidah. Sosok mukmin yang memiliki sikap furqan itu di dalam pribadinya selalu menjaga tubuhnya agar selalu bersifat furqan (dapat membedakan yang baik dan yang buruk).

Di antaranya yang harus dijaga adalah:
1.      Penglihatan yang furqan adalah penglihatan yang tidak pernah melihat aurat lawan jenisnya . selalu mendudukkan pandangan terhadap pria atau wanita yang memang bukan muhrimnya.
2.    Pendengaran yang furqan adalah pendengaran yang diarahkan untuk menangkap informasi kebenaran. Tidak mau menerima fitnah, gunjingan dan keterangan-keterangan yang batil.
3.     Mulut dan lidah yang furqan selalu mengucapkan hal-hal yang baik. Mengajak orang ke jalan Allah, tidak mau bicara yang keji dan mungkar, atau yang tidak bermanfaat.
Tidak mau terlibat omongan dusta, gunjingan, fitnah dan sebagainya.
4.  Tangan yang furqan selalu siap menyumbangkan tenaga bagi tegaknya al-haq, memberi sedekah hingga yang kiri tidak tahu aktivitas yang kanan, memberi manfaat kepada manusia dengan menghasilkan karya-karya yang baik dan berguna. Tidak dipergunakan untuk menyakiti atau merusak.
5.      Kaki yang furqan, senantiasa berjalan ke tempat-tempat yang di ridhai Allah SWT. dan member manfaat pada masyarakat. Tidak pergi ke tempat maksiat yang dibenci Allah SWT.
6.  Perut yang furqan tidak mau menerima makanan yang haram dzatnya, sifatnya maupun akibatnya. Ia hanya makan makanan yang jelas halalnya serta tidak berlebihan
7.    Farji atau kemaluan yang furqan selalu terpelihara dari perbuatan zina, baik terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi. Hanya berhubungan dengan yang di halalkan oleh Allah melalui jenjang pernikahan yang sesuai dengan syari’at islam

Untuk mencapai tujuh unsure itu mesti dengan pembinaan dan pendidikan yang insentif. Pola pendidikan ini meliputi bidang akal, roh dan amal.
Roh di sibukan dan di isi dengan berhubungan kepada Allah. Akal senantiasa menampung fikrah (ide) yang mengerti mana yang batil dan mana yang tidak. Amal senantiasa harus selaras dengan hati dan pemikiran yang islami. Begitulah cara mencapai sikap furqan yang dapat dilakukan pula melalui puasa dalam Ramadhan.

RAMADHAN BULAN TARBIYAH
Ramadhan benar-benar merupakan bulan pembinaan (tarbiyah) bagi kaum muslimin. Di dalamnya Allah SWT menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada Nya. Dengan amalan-amalan yang pahalnya berlipat ganda. Pembinaan ini merupakan salah satu karakter Ramadhan, selain menjadi bulan jihad dan furqan, ia juga bulan tarbiyah.

Assyaikh Sayyid Hawwa rahimatullaahu berkata : “Pada hakikatnya Ramadhan merupakan madrasah, jika orang yang berpuasa pandai memanfaatkannya tidak seperti sebelumnya Ramadhan adalah madrasah, tempat seorang mukmin mempebarui ikatan-ikatannya dengan islam dalam dirinya dan mengambil bekal yang dapat menutupi segala kekurangan sebelumnya.”

Dengan tarbiyah Ramadhan ini semakin baik kehidupannya, baik secara individu dalam bentuk meningkatkan ikatan persaudaraan dan silaturahmi. Yang menandai Ramadhan ini sebagai Bulan Tarbiyah adalah turunnya Al Qur’an. Kata pertama turun adalah Iqra’ (bacalah). Maksudnya memperlajari, menghayati dan mengamalkan dalam perbuatan.

Allah swt berfirman dalam surat Ali imran ayat 79 :


Artinya : “Tidak, wajar bagi seseorang yang di berikan kepadanya alkitab hikmah dan kenabian, lalu berkata kepada manusia: hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembah selain Allah, tetapi ia berkata : Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani karena kamu selalu mengajarkan al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”.

Kebaikan Ramadhan yang merupakan latihan dan pendidikan bagi jiwa dan roh mukminin adalah qiyamullaili (shalat tarawih) dan I’tikaf di masjid. Dengan qiyamullail ini roh mukminin dan mukminat akan mendapatkan kekuatan spiritual yang maha dahsyat dalam menghadapi berbagai gelombang ujian dan cobaan dalam situasi dan kondisi apapun.

Kebaikan bulan Ramadhan juga memberikan bimbingan agar umat islam senantiasa menjadi umat yang pemurah dan dermawan, denga sikap member lebih banyak dalam menjalankan kewajiban dari menuntut hak semata-mata. Berilah pertolongan kepada kaum yang lemah. Bersihkan jiwa dan harta dengan membayar zakat firah dan maal, berikan shadaqah dan infaq di jalan Allah untuk pembangunan masjid, madrasah dan berbagai kegiatan dakwah islamiah. Semoga bulan suci Ramadhan benar-benar memberikan berkah dan rahmat kepada seluruh umat islam. Amin, yaa rabbal alamin..

Sumber : Tuntunan Ibadah Puasa,

Sairudin, A. Shomad Robith, Drs. Zainal Alim  

Friday, June 20, 2014

19 Keistimewaan Wanita


1.   Surga ada di bawah telapak kaki ibu
2.       Doa wanita lebih makbul daripada laki-laki karena mempunyai sifat penyayang yang lebih kuat daripada laki-laki. Rasulullah pun mengiyakan hal itu ketika di Tanya “Ibu lebih penyayang daripada bapak dan doa yang penyayang tidak akan sia-sia”.
3.       Wanita yang shalehah itu lebih baik daripada 1000 laki-laki yang saleh
4.       Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama Rasulullah di surga
5.       Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang senantiasa menangis karena takut Allah SWT. Dan orang yang takut Allah SWT akan di haramkan api neraka ke atas tubuhnya
6.       Barangsiapa membawa hadiah atau barang makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya maka pahalanya seperti melakukan amalan bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada lelaki
7.       Apabila akan memanggil dirimu dua orang ibu bapakmua, maka jawablah panggilan ibumu terlebih dahulu
8.       Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka  dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta sikap bertanggung jawab, maka baginya adalah surga
9.       Aisyah r.a berkata :”Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuannya lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.”
10.   Aisyah r.a berkata : “ Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita?” Rasulullah menjawab : “Suaminya”. “SIapa pula yang berhak terhadap laki-laki?” jawab Rasulullah : “Ibunya”.
11.   Wanita yang taat pada suaminya, maka semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama dia taat kepada suaminya serta menjaga shalat dan puasanya
12.   Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutulah pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu surga. Masuklah dari mana saja pintu yang dia kehendaki dengan tidak di hisab
13.   Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah SWT memasukan dia ke dalam surga terlebih dahulu daripada suaminya (10.000 tahun)
14.   Apabila seseorang perempuan muali sakit hendak bersalin, maka Allah SWT mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad di jalan Allah SWT
15.   Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, memlihara kehormatannya serta pada suaminya, masuklah dia dari pintu surga mana sajan yang dikehendakinya
16.   Apabila seorang wanita mengandung janin di dalam rahimnya, maka beristigfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mencatatkan baginya setiap hari dengan 1000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1000 kejahatan
17.   Apabila seorang wanita melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-doss seperti keadaan ibunya melahirkannya
18.   Apabila telah lahir anak lalu di susui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan
19.   Apabila semalaman seorang ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah SWT memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk mambawa agama Allah SWT

Jangan Menyingkat “ASSALAMU’ALAIKUM”


Menjawab salam sesame muslim dalam adab islam hukumnya wajib, dan juga di Negara kita Indonesia mayoritas beragama Islam. Namun, seiring berjalannya waktu, kecanggihan elektronik, kata salam yang original dari agama Islam sering di rubah-rubah entah untuk kepentingan apa, atau hanya sebatas menyingkat kata, namun malah merusak arti dari kata tersebut yang artinya sangat baik.

Berikut kata Assalamu’alaikum yang sering disingkat :
1    .       As = Orang bodoh ; keledai
2    .       Ass = Pantat
3    .       Askum = Celakalah kamu
4    .       Assamu = Racun
5    .       Samlekum = Matilah kamu
6    .       Salom/Syalom = Dari bahasa Ibrani untuk sesame Kristen dan ada 263 kata di dalam kitab perjanjian lama dan perjanjian baru
7    .       Mikum = Dari bahasa Ibrani Mari Bercinta

Nabi Sulaiman As menulis sebuah surat yang terdapat di dalam Al Quran :
“Innahu min Sulaimana wa innahu Bismillahirahmaanir rohim ‘ala ta’lu ‘alayya wa’tunil muslimina tho’innalloha robbal ‘alamin.”

Salam pendek, salam sedang, salam panjang telah dicontohkan oleh Nabi dan tidak merubah makna aslinya:
1   .       Salam pendek : “Assalamu’alaikum” dengan 10 kebaikan
2   .       Salam sedang : “Assalamu’alaikum Warahmatullah” dengan 20 kebaikan

3   .       Salam panjang : “Assalamu’alaikum warahmatullahi Wabarakatuh” dengan kebaikan sempurna
S
SSumber : untuk-islam.blogspot 

Jejak Tuhan Di Jagad Raya


Dikemukakan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abus Syaikh bahwa Allah menurunkan ayat :“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.(Q.S. al-Baqarah : 163), maka pada saat itu berkatalah orang-orang kafir, “Bagaimana Tuhan Satu bisa mendengar sekian banyak manusia?”, maka sebagai jawabannya Allah menurunkan ayat : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (Q.S. al-Baqarah : 164)
Orang mungkin sering bertanya, bagaimana kita membuktikan keberadaan Allah padahal Ia tidak pernah kita lihat? Pertanyaan seperti ini terkadang membuat kita bingung dan gelisah, bahkan jika dibiarkan akan membuat kita menjadi ragu-ragu dalam beragama. Karenanya, kita memerlukan argumen untuk membuktikan keberadaan Allah swt, meskipun tidak pernah kita dengar atau kita melihat diri-Nya secara langsung.
Suatu hari datanglah seorang kafir ke hadapan Imam Ali ar-Ridha dan kemudian berkata : “Buktikanlah kepadaku keberadaan Tuhan itu”! Imam Ali ar-Ridha menjawab : “Saat aku memikirkan tentang tubuhku, aku sadar bahwa aku tidak bisa menambahkan sesuatu pada panjang dan lebarnya, atau mengurangi sesuatu daripadanya. Demikian pula, aku tak bisa memilih untuk bahagia atau tidak bahagia (sebagai contoh, bisa saja aku telah berusaha keras untuk sembuh dari sakit, tetapi tetap saja gagal). Dari bukti ini dan juga dari memperhatikan pengaturan matahari, bintang-bintang, planet-planet dan bumi serta keteraturan seluruh alam semesta, aku paham bahwa tubuhku dan alam ini ada pencipta dan pengaturnya Yang Maha Tahu dan Maha Kuasa.”
Cobalah kamu lempar sebuah batu ke atas, kemudian tunggulah beberapa saat batu pasti akan kembali jatuh ke bawah menuju tanah. Kenapa hal itu terjadi? Kita akan menjawab bahwa batu itu ditarik oleh kekuatan bumi yang kita sebut dengan gravitasi. Kenapa kita yakin bahwa gravitasi itu ada, padahal kita tidak pernah mendengarnya, tidak pernah melihat bentuknya, dan tidak pernah mencium baunya? Jawabnya, kita mengetahui melalui efek yang yang ditimbulkannya, dimana kita mengamati, bahwa setiap benda-benda yang terlepas akan jatuh ke tanah.
Jadi, jika ditelusuri apa yang ada di alam dunia ini pun, akan ditemukan hal-hal yang tidak mampu indera kita menangkapnya. Ini menjadi lebih jelas dengan mengamati tingkatan makhluk yang sering kita pelajari di sekolah, sebagai berikut :
  1. Benda mati. Benda mati ini, sepenuhnya dapat diindera oleh manusia seperti batu, tanah, dan lain-lain.
  2. Tumbuh-tumbuhan. Pada tingkat tumbuh-tumbuhan sudah terdapat hal-hal yang dapat kita indera seperti batang pohon, daunya, akarnya, buahnya, dan lain-lain. Namun, ada juga hal-hal yang tidak dapat kita indera seperti kehidupan yang ada pada tumbuhan, karena tumbuhan termasuk makhluk hidup.
  3. Dunia hewan. Pada hewan juga terdapat hal-hal yang bisa diindera seperti bentuk tubuhnya atau bulunya. Tetapi ada juga yang tidak bisa kita indera seperti kehidupan, naluri, dan cinta kasih pada binatang.
   4. Dunia manusia. Perhatikan dirimu, apa yang engkau lihat. Kamu akan melihat tubuhmu, tanganmu, kepalamu, kakimu, hidungmu, bibirmu, model rambutmu, dan lainnya. Tetapi apakah engkau pernah melihat bentuk atau kekuatan hidup pada dirimu, kesadaran, akal pikiran, takut, atau cinta kasih? Kamu tidak pernah melihatnya, tetapi kamu yakin semua itu ada pada dirimu.

Dengan demikian, jika kita perhatikan, ternyata di alam ini banyak sekali hal-hal yang tidak dapat kita indera, tidak pernah kita lihat, dengar atau rasakan, tetapi kita meyakini keberadaannya dari efek yang ditimbulkannya. Itulah mengapa Allah berfirman di dalam al-Quran, “Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan apa yang tidak kamu lihat” (Q.S. al-Haqqah : 38-39).
Dari sisi lain, para pemikir Muslim menyebutkan ada lima hierarki realitas wujud yang disebut dengan al-Hadharat al-Ilahiyah al-Khamis (Lima Kehadiran Ilahi), yaitu alam nasut (alam materi),alam malakut (alam kejiwaan), alam jabarut (alam ruh), alam lahut (sifat-sifat uluhiyah),dan alam hahut (wujud zat ilahi). Hanya alam yang pertama saja (alam materi) yang mampu dijangkau oleh manusia dengan inderanya, sedangkan empat lainnya termasuk alam gaib yang tidak dapat di indera.
Sekarang, coba kamu perhatikan sebuah komputer. Ia memiliki bagian-bagian hardware dan sofwareyang kemudian di susun sehingga jadilah satu unit komputer. Mungkinkah, komputer itu tersusun dan jadi dengan sendirinya tanpa ada yang meyusun atau merakitnya? Jika, satu unit komputer saja harus ada yang membuatnya yang memiliki kecerdasan tinggi, lalu mungkinkah alam yang luas dan rumit ini datang dengan sendirinya tanpa diciptakan oleh suatu kekuatan yang Tinggi? Tentu saja kita jawab : Tidak!, alam ini pasti ada yang menciptakannya.” Itulah yang kita sebut Allah swt. Inilah bukti keberadaan Allah swt.
Ayat di atas juga memberikan bukti kepada kita akan keberadaan dan keesaan Allah swt, dengan memperhatikan enam fenomena :
1. Penciptaan langit dan bumi.
2. Silih bergantinya malam dan siang.
3. Bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia
4. Air yang diturunkan dari langit yang dapat menghidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan tersebarnya di bumi itu segala jenis hewan.
5. Pengisaran angin.
6. Awan yang dikendalikan antara langit dan bumi.
Keenam fenomena ini merupakan bukti nyata keberadaan dan keesaan Allah. Tetapi sebagaimana ditegaskan oleh ayat tersebut,  semua itu hanya bermakna bagi orang-orang yang mau memikirkan. Benarlah Rasulullah saaw yang bersabda, “Agama adalah akal, tidak ada agama bagi yang tidak berakal”. ‘Ya allah, karuniailah kami kecerahan hati dan ketajaman akal, untuk senantiasa memperhatikan segala jejak-jejak yang Engkau tinggalkan di alam ciptaan.” 

Sumber : liputanislam.com


Thursday, June 19, 2014

Dialog Rasulullah Dengan Iblis



Pada suatu hari, ketika Rasulullah hendak memasuki masjid, beliau melihat iblis berada dipintu masjid. Maka, Rasulullah menegurnya,
 “Wahai iblis, apa yang sedang kamu lakukan disini?”
Iblis menjawab, “Aku hendak masuk masjid dan merusak shalatnya orang itu. Tetapi, aku merasa takut terhadap orang yang sedang tidur di situ.” Kata iblis sambil menunjuk seseorang yang sedang tidur di masjid.
Rasulullah bertanya lagi, “Wahai iblis, mengapa engkau takut terhadap orang yang sedang tidur dan tidak kepada orang yang sedang shalat dan bermunajat kepada Allah?”
“Orang yang sedang shalat itu adalah orang yang bodoh, tidak tahu syarat hukumnya shalat, tuma’ninah, dan tidak bisa shalat dengan khusyu. Untuk merusak shalatnya, bagiku sangat mudah. Sedangkan orang yang sedang tidur itu adalah orang alim, maka jika aku merusak shalatnya orang bodoh itu, ia akan membangunkan orang yang sedang tidur itu dan kemudian mengajari dan membetulkan shalatnya orang yang bodoh tadi”. Jawab iblis yang licik itu.

Oleh karena itu Rasulullah pernah bersabda, “Tidurnya orang alim itu lebih baik daripada ibadahnya orang bodoh”.

Wahab bin Munabbih mengemukakan sebuah riwayat bahwa Allah telah memerintahkan iblis untuk datang kepada Rasulullah supaya berdialog dan menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh beliau. Maka, datanglah iblis ke hadapan beliau dengan menyerupai seorang manusia dan tangan kanannya memegang sebuah tongkat. Kemudian, terjadilah percakapan antara Rasulullah dan ibls tersebut. Beliau bertanya,
“Siapakah engkau?”
“Aku adalah iblis!” Jawabnya
“Untuk apa engkau datang kemari?” Tanya beliau lagi
“Aku diutus oleh Allah untuk menjawab seluruh pertanyaanmu!”
Mendengar perkataan iblis maka Rasulullah bersabda, “Wahai iblis, berapakah musuhmu dari umat Muhammad?”
“Musuhku yang dari umatmu adalah lima belas golongan yaitu:
-          Kamu, Muhammad, adalah musuhku yang paling besar
-          Imam yang adil
-          Orang yang kaya yang tawadhu (rendah hati)
-          Pedagang yang jujur
-          Orang alim yang shalat dengan khusyu
-          Orang mukmin yang memberi nasehat
-          Orang mukmin yang mempercepat tali persaudaraan
-          Orang yang bertaubat dan menetapi tobatnya itu
-          Orang yang berhati-hati menjauhi barang haram
-          Orang mukmin yag melanggengkan kesuciannya
-          Orang mukmin yang banyak bersedekah
-          Orang mukmin yang baik akhlaknya
-          Orang muknin yang hidupnya member kemanfaatan bagi orang lain
-          Orang yang hafal Al Qur’an dan melanggengkan hafalannya
-          Orang yang shalat malam di kala manusia sedang tidur

Kemudian bertanya lagi, “Siapa saja yang menjadi temanmu dari umatku ini?”
Jawab iblis, “Umatmu yang menjadi teman dan sahabatku ada sepuluh golongan, mereka adalah:
-          Hakim yang durhaka, tidak mau menegakkan keadilan yang sebenarnya dan penguasa            yang zalim
-          Orang yang kaya yang takabur
-          Pedagang yang khianat/curang
-          Peminum khamar dan penjudi
-          Tukang fitnah
-          Orang riya
-          Orang yang memakan harta anak yatim
-          Orang yang meremehkan shalat
-          Orang yang tidak mau mengeluarka zakat
-          Orang yang panjang angan-angan tetapi miskin harta
“Semua itu menjadi saudaraku”. Jawab iblis mengakhiri dialognya dengan Rasulullah saw.


Semoga kita semua berada dalam golongan musuh dari iblis, perbanyak amal baik, sedekah, dan jauhi golongan yang termasuk kedalam sahabat iblis..

Egois



Orang sering salah alamat dalam menilai antara pede dengan ego-centered (egoisme), yaitu sikap mau menang sendiri atau merasa benar sendiri. Padahal kalau kita telusuri sampai ke akarnya, perbedaan antara pede yang menyimpang dan pede yang lurus bukan karna persoalan kadarnya, melainkan murni berbeda pada tingkatan sumber motifnya. Artinya, baik praktek perilaku, sifat, dan sikap egois bukanlah karna kadar rasa percaya diri yang kuat melainkan justru karena kurang dari kadar yang dibutuhkan dan akhirnya menyimpang. Pede yang menyimpang (ego-centered) juga berasal dari sumber rasa takut secara berlebihan.

Asumsi personal yang sering dipakai adalah ketika kita mulai merasa bahwa penyelesaian masalah berada diluar diri kita dan sangat terbatas jumlahnya. Akibatnya, ketika kita tersenggol sedikit saja oleh kepentingan atau keinginan orang lain kita merasa sulit memaafkan orang tersebut seumur hidup. Kita menjadi cepat tersinggung dengan letupan amarah yang tidak terkontrol.

Rasa takut yang negative juga sering membuat pagar mental berupa ketakutan menghadapi tantangan yang merupakan risiko hidup. Kedua perasaan itulah yang kemudian menghasilkan kesimpulan rasa rendah diri yang bisa ditampilkan dalam bentuk perilaku, sifat, atau sikap secara agresif atau submisif.

Adapun cirri-ciri egois adalah sebagai berikut:

1. Enggan Membaca
Ketika disuruh malaikat Jibril, "Bacalah!", Rasulullah Saw. menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Lalu malaikat Jibril menyampaikan lima ayat pertama yang memotivasi beliau untuk optimis. Adapun orang yang 'sok tahu' pesimis akan kemampuannya. Sebelum berusaha semaksimal mungkin, ia lebih dulu berdalih, "Ngapain baca-baca teori. Mahamin aja sulitnya minta ampun. Yang penting prakteknya 'kan?" Padahal, Allah pencipta kita itu Maha Pemurah. Ia mengajarkan kepada kita apa saja yang tidak kita ketahui. 
Disisi lain, ada pula orang Islam yang terlalu optimis dengan pengetahuannya, sehingga enggan memperdalam. Katanya, misalnya, "Ngapain baca-baca Qur'an lagi. Toh udah khatam 7 kali. Mending buat kegiatan lain aja." Padahal, Al-Qur'an adalah sumber dari segala sumber ilmu, sumber 'cahaya' yang tiada habis-habisnya menerangi kehidupan dunia. Katanya, misalnya lagi, "Ngapain belajar ilmu agama lagi, toh sejak SD hingga tamat kuliah udah diajarin terus." Padahal, 'ilmu agama' adalah ilmu kehidupan dunia-akhirat. 

2. Enggan Menulis
Orang yang sok tahu terlalu mengandalkan kemampuannya dalam mengingat-ingat dan menghafal pengetahuan atau ilmu yang diperolehnya. Ia enggan mencatat. "Ngerepotin," katanya. Seolah-olah, otaknya adalah almari baja yang isinya takkan hilang. Padahal, sifat lupa merupakan bagian dari ciri manusia. Orang yang sok tahu enggan mencatat setiap membaca, menyimak khutbah, kuliah, ceramah, dan sebagainya. Padahal, Allah telah mengajarkan penggunaan pena kepada manusia. 
Di sisi lain, ada pula orang yang kurang mampu menghafal dan mengingat-ingat pengetahuan yang diperolehnya, tapi ia merasa terlalu bodoh untuk mampu menulis. "Susah," katanya. Padahal, merasa terlalu bodoh itu jangan-jangan pertanda kemalasan. Emang sih, kalo nulis buat orang lain, kita perlu ketrampilan tersendiri. Tapi, bila nulis buat diri sendiri, bukankah kita gak bakal kesulitan nulis 'sesuka hati'? Apa susahnya nulis di buku harian, misalnya, "Tentang ciri sok tahu, lihat al-'Alaq!"? 

3. Membanggakan Keluasan Pengetahuan
Orang yang sok tahu membanggakan kepintarannya dengan memamerkan betapa ia banyak membaca, banyak menulis, banyak mendengar, banyak berceramah, dan sebagainya tanpa menyadari bahwa pengetahuan yang ia peroleh itu semuanya berasal dari Allah. Ia mengira, prestasi yang berupa luasnya pengetahuannya ia peroleh berkat kerja kerasnya saja. Padahal, terwujudnya pengetahuan itu pun semuanya atas kehendak-Allah. 
Mungkin ia suka meminjam atau membeli buku sebanyak-banyaknya, tetapi membacanya hanya sepintas lalu atau malah hanya memajangnya. Ia merasa punya cukup banyak wawasan tentang banyak hal. Ia tidak merasa terdorong untuk menjadi ahli di bidang tertentu. Kalau ia menjadi muballigh 'tukang fatwa', semua pertanyaan ia jawab sendiri langsung walau di luar keahliannya. Ia mungkin bisa menulis atau berbicara sebanyak-banyaknya di banyak bidang, tetapi kurang memperhitungkan kualitasnya.

4. Merendahkan Orang Lain Yang Tidak Sepaham
Bagi orang Islam yang sok tahu, siapa saja yang bertentangan dengan pendapatnya, segera saja ia menuduh mereka telah melakukan bid'ah, sesat, meremehkan agama, dan sebagainya. Bahkan, misalnya, sampai-sampai ia melarang orang-orang lain melakukan amal yang caranya lain walau mereka punya dalil tersendiri. Ia menjadikan dirinya sebagai "Yang Maha Tahu", terlalu yakin bahwa pasti pandangan dirinyalah satu-satunya yang benar, sedangkan pandangan yang lain pasti salah. Padahal, Allah Swt berfirman: "Janganlah kamu menganggap diri kamu suci; Dia lebih tahu siapa yang memelihara diri dari kejahatan." (an-Najm [53]: 32) 

Muslim yang sok tahu cenderung menganggap kesalahan kecil sebagai dosa besar dan menjadikan dosa itu identik dengan kesesatan dan kekafiran! Lalu atas dasar itu dengan gampangnya ia mengeluarkan 'vonis hukuman mati'. Padahal, dalam sebuah hadits shahih dari Usamah bin Zaid dikabarkan, "Barangsiapa mengucapkan laa ilaaha illallaah, maka ia telah Islam dan terpelihara jiwa dan hartanya. Andaikan ia mengucapkannya lantaran takut atau hendak berlindung dari tajamnya pedang, maka hak perhitungannya ada pada Allah. Sedang bagi kita cukuplah dengan yang lahiriah." 

5. Menutup Telinga dan Membuang Muka Bila Mendengar Pendapat Lain
Orang yang sok tahu tidak memberi peluang untuk berdiskusi dengan orang lain. Kalau toh ia memasuki forum diskusi di suatu situs, misalnya, ia melakukannya bukan untuk mempertimbangkan pendapat yang berbeda dengan pandangan yang selama ini ia anut, melainkan untuk mengumandangkan pendapatnya sendiri. Ia hanya melihat selayang pandang gagasan orang-orang lain, lalu menyerang mereka bila berlainan dengannya. Ia tidak mau tahu bagaimana mereka berhujjah (berargumentasi). 
Di samping itu, orang yang sok tahu itu bersikap fanatik pada pendapat golongannya sendiri. Seolah-olah ia berseru, "Adalah hak kami untuk berbicara dan adalah kewajiban kalian untuk mendengarkan. Hak kami menetapkan, kewajiban kalian mengikuti kami. Pendapat kami semuanya benar, pendapat kalian banyak salahnya." Orang yang terlalu fanatik itu tidak mengakui jalan tengah. Ia menyalahgunakan aksioma, "Yang haq adalah haq, yang bathil adalah bathil." 

6. Suka Menyatakan Pendapat Tanpa Dasar Yang Kuat
Muslim yang sok tahu gemar menyampaikan pendapatnya dengan mengatasnamakan Islam tanpa memeriksa kuat-lemahnya dasar-dasarnya. Ia suka berkata, "Menurut Islam begini.... Islam sudah jelas melarang begitu...." dan sebagainya, padahal yang ia ucapkan sesungguhnya hanyalah, "Menurut saya begini.... Saya melarang keras engkau begitu...." dan seterusnya. Kalau toh ia berkata, "Menurut saya bla bla bla....", ia hanya mengemukakan opini pribadinya belaka tanpa disertai dalil yang kuat, baik dalil naqli maupun aqli. 

7. Suka Berdebat Kusir
Jika pendapatnya dikritik orang lain, orang yang sok tahu itu berusaha keras mempertahankan pandangannya dan balas menyerang balik pengkritiknya. Ia enggan mencari celah-celah kelemahan di dalam pendapatnya sendiri ataupun sisi-sisi kelebihan lawan diskusinya. Sebaliknya, ia tekun mencari-cari kekurangan lawan debatnya dan menonjol-nonjolkan kekuatan pendapatnya. Dengan kata lain, setiap berdiskusi ia bertujuan memenangkan perdebatan, bukan mencari kebenaran. 

Demikianlah beberapa ciri orang yang sok tahu atau egois menurut surat al-'Alaq. Dengan mengenali ciri-ciri tersebut, semoga kita masing-masing dapat melakukan introspeksi dan memperbaiki diri sehingga kita tidak menjadi orang yang sok tahu. Aamien.


Sumber : Oleh: Hendra Pakpahan, dinulislam.blogspot

Penghuni Neraka Terbanyak Adalah Kaum Perempuan



Ada sebuah hadist yang mengatakan, bahwa penghuni neraka terbanyak adalah kaum perempuan. Sebagaimana Nabi SAW. bersabda :
“Sebab mereka (kaum wanita) mengkufuri suami. Apabila suami berbuat baik terus menerus, kemudian sekali berbuat buruk, dia akan berkata : “Engkau belum pernah berbuat baik kepadaku.”

Apabila seorang wanita tidak ingin menjadi penghuni neraka, maka bila suaminya berbuat sesuatu yang tidak baik terhadapnya, hendaklah segera di ingatkan dengan kata-kata yang baik-baik dan sopan santun agar suaminya itu tidak tersinggung ataupun sakit hati. Selain itu ia juga ridha akan kesalahannya dan tetap bahagiakan serta tidak mengkufuri kebaikan-kebaikan suaminya.

Jika seorang wanita bisa berbuat seperti itu, maka patut ia menjadi penghuni surga. Sebagaimana Nabi SAW. bersabda :
“Siapapun dari kaum wanita yang wafat dan suaminya ridha kepadanya, maka ia akan dapat surga.”

Jadi wanita yang bisa menjaga dan ridha akan kesalahan suaminya serta tidak mengkufuri akan kebaikan-kebaikannya, maka wanita yang demikian itu akan menjadi penghuni surga. Dan semoga kita para kaum perempuan dijauhkan dari hal-hal yang tidak di ridhai Allah SWT. Amin..

Nama Lain Al Qur'an

Selain Al-Qur'an, Allah memberi nama nama lain bagi Kitab Nya, seperti :

1. Al Kitab atau Kitabullah
Merupakan sinonim dari perkataan al-Qur'an, sebagaimana tersebut dalam surat ( 2 ) ayat 2 artinya : "
 Kitab ( Al-Qur'an ) ini tidak ada keraguan padanya, Juga di surah Al An'am ayat 114 .

2. Al Furqan

Artinya " Pembeda " , ialah yang membedakan yang benar dan yang batil, sebagaimana tersebut dalam surat Al Furqan ayat 1 yang artinya :
 Maha Agung ( Allah ) yang telah menurunkan Al Furqan, kepada hamba Nya agar ia menjadi peringatan kepada seluruh alam.

3. Adz Dzikir
Artinya " Peringatan ", sebagaimana tersebut dalam surat Al hijr ayat 9 yang artinya "Sesungguhnya Kami lah yang menurunkan Adz Dzikr dan sesungguhnya Kamilah penjaganya
 
, begitu pula dalam surat An Nahl ayat 44.

Dari nama yang tiga tersebut di atas, yang paling masyhur dan merupakan nama khas adalah "  'Al Quran".

Selain nama nama yang tiga itu, ada lagi beberapa nama bagi Al Qur'an. Imam As Suyuti dalam kitabnya Al Itqan, menyebutkan nama nama Al Qur'an di antaranya : Al Mubiin, Al Kariim, Al Kalam, An Nuur.