Orang sering salah alamat dalam
menilai antara pede dengan ego-centered (egoisme), yaitu sikap mau menang
sendiri atau merasa benar sendiri. Padahal kalau kita telusuri sampai ke
akarnya, perbedaan antara pede yang menyimpang dan pede yang lurus bukan karna
persoalan kadarnya, melainkan murni berbeda pada tingkatan sumber motifnya.
Artinya, baik praktek perilaku, sifat, dan sikap egois bukanlah karna kadar
rasa percaya diri yang kuat melainkan justru karena kurang dari kadar yang
dibutuhkan dan akhirnya menyimpang. Pede yang menyimpang (ego-centered) juga
berasal dari sumber rasa takut secara berlebihan.
Asumsi personal yang sering
dipakai adalah ketika kita mulai merasa bahwa penyelesaian masalah berada
diluar diri kita dan sangat terbatas jumlahnya. Akibatnya, ketika kita
tersenggol sedikit saja oleh kepentingan atau keinginan orang lain kita merasa
sulit memaafkan orang tersebut seumur hidup. Kita menjadi cepat tersinggung
dengan letupan amarah yang tidak terkontrol.
Rasa takut yang negative juga
sering membuat pagar mental berupa ketakutan menghadapi tantangan yang
merupakan risiko hidup. Kedua perasaan itulah yang kemudian menghasilkan
kesimpulan rasa rendah diri yang bisa ditampilkan dalam bentuk perilaku, sifat,
atau sikap secara agresif atau submisif.
Adapun cirri-ciri egois adalah
sebagai berikut:
1. Enggan Membaca
Ketika disuruh malaikat Jibril,
"Bacalah!", Rasulullah Saw. menjawab, "Aku tidak bisa
membaca." Lalu malaikat Jibril menyampaikan lima ayat pertama yang
memotivasi beliau untuk optimis. Adapun orang yang 'sok tahu' pesimis akan kemampuannya.
Sebelum berusaha semaksimal mungkin, ia lebih dulu berdalih, "Ngapain
baca-baca teori. Mahamin aja sulitnya minta ampun. Yang penting prakteknya
'kan?" Padahal, Allah pencipta kita itu Maha Pemurah. Ia mengajarkan
kepada kita apa saja yang tidak kita ketahui.
Disisi lain, ada pula orang Islam
yang terlalu optimis dengan pengetahuannya, sehingga enggan memperdalam.
Katanya, misalnya, "Ngapain baca-baca Qur'an lagi. Toh udah khatam 7 kali.
Mending buat kegiatan lain aja." Padahal, Al-Qur'an adalah sumber dari
segala sumber ilmu, sumber 'cahaya' yang tiada habis-habisnya menerangi
kehidupan dunia. Katanya, misalnya lagi, "Ngapain belajar ilmu agama lagi,
toh sejak SD hingga tamat kuliah udah diajarin terus." Padahal, 'ilmu
agama' adalah ilmu kehidupan dunia-akhirat.
2. Enggan Menulis
Orang yang sok tahu terlalu
mengandalkan kemampuannya dalam mengingat-ingat dan menghafal pengetahuan atau
ilmu yang diperolehnya. Ia enggan mencatat. "Ngerepotin," katanya.
Seolah-olah, otaknya adalah almari baja yang isinya takkan hilang. Padahal,
sifat lupa merupakan bagian dari ciri manusia. Orang yang sok tahu enggan
mencatat setiap membaca, menyimak khutbah, kuliah, ceramah, dan sebagainya.
Padahal, Allah telah mengajarkan penggunaan pena kepada manusia.
Di sisi lain, ada pula orang yang
kurang mampu menghafal dan mengingat-ingat pengetahuan yang diperolehnya, tapi
ia merasa terlalu bodoh untuk mampu menulis. "Susah," katanya.
Padahal, merasa terlalu bodoh itu jangan-jangan pertanda kemalasan. Emang sih,
kalo nulis buat orang lain, kita perlu ketrampilan tersendiri. Tapi, bila nulis
buat diri sendiri, bukankah kita gak bakal kesulitan nulis 'sesuka hati'? Apa
susahnya nulis di buku harian, misalnya, "Tentang ciri sok tahu, lihat
al-'Alaq!"?
3. Membanggakan Keluasan
Pengetahuan
Orang yang sok tahu membanggakan
kepintarannya dengan memamerkan betapa ia banyak membaca, banyak menulis,
banyak mendengar, banyak berceramah, dan sebagainya tanpa menyadari bahwa
pengetahuan yang ia peroleh itu semuanya berasal dari Allah. Ia mengira, prestasi
yang berupa luasnya pengetahuannya ia peroleh berkat kerja kerasnya saja.
Padahal, terwujudnya pengetahuan itu pun semuanya atas kehendak-Allah.
Mungkin ia suka meminjam atau
membeli buku sebanyak-banyaknya, tetapi membacanya hanya sepintas lalu atau
malah hanya memajangnya. Ia merasa punya cukup banyak wawasan tentang banyak
hal. Ia tidak merasa terdorong untuk menjadi ahli di bidang tertentu. Kalau ia
menjadi muballigh 'tukang fatwa', semua pertanyaan ia jawab sendiri langsung
walau di luar keahliannya. Ia mungkin bisa menulis atau berbicara
sebanyak-banyaknya di banyak bidang, tetapi kurang memperhitungkan kualitasnya.
4. Merendahkan Orang Lain Yang
Tidak Sepaham
Bagi orang Islam yang sok tahu,
siapa saja yang bertentangan dengan pendapatnya, segera saja ia menuduh mereka
telah melakukan bid'ah, sesat, meremehkan agama, dan sebagainya. Bahkan,
misalnya, sampai-sampai ia melarang orang-orang lain melakukan amal yang
caranya lain walau mereka punya dalil tersendiri. Ia menjadikan dirinya sebagai
"Yang Maha Tahu", terlalu yakin bahwa pasti pandangan dirinyalah
satu-satunya yang benar, sedangkan pandangan yang lain pasti salah. Padahal,
Allah Swt berfirman: "Janganlah kamu menganggap diri kamu suci; Dia lebih
tahu siapa yang memelihara diri dari kejahatan." (an-Najm [53]: 32)
Muslim yang sok tahu cenderung
menganggap kesalahan kecil sebagai dosa besar dan menjadikan dosa itu identik
dengan kesesatan dan kekafiran! Lalu atas dasar itu dengan gampangnya ia
mengeluarkan 'vonis hukuman mati'. Padahal, dalam sebuah hadits shahih dari
Usamah bin Zaid dikabarkan, "Barangsiapa mengucapkan laa ilaaha illallaah,
maka ia telah Islam dan terpelihara jiwa dan hartanya. Andaikan ia
mengucapkannya lantaran takut atau hendak berlindung dari tajamnya pedang, maka
hak perhitungannya ada pada Allah. Sedang bagi kita cukuplah dengan yang
lahiriah."
5. Menutup Telinga dan Membuang
Muka Bila Mendengar Pendapat Lain
Orang yang sok tahu tidak memberi
peluang untuk berdiskusi dengan orang lain. Kalau toh ia memasuki forum diskusi
di suatu situs, misalnya, ia melakukannya bukan untuk mempertimbangkan pendapat
yang berbeda dengan pandangan yang selama ini ia anut, melainkan untuk
mengumandangkan pendapatnya sendiri. Ia hanya melihat selayang pandang gagasan
orang-orang lain, lalu menyerang mereka bila berlainan dengannya. Ia tidak mau
tahu bagaimana mereka berhujjah (berargumentasi).
Di samping itu, orang yang sok tahu
itu bersikap fanatik pada pendapat golongannya sendiri. Seolah-olah ia berseru,
"Adalah hak kami untuk berbicara dan adalah kewajiban kalian untuk
mendengarkan. Hak kami menetapkan, kewajiban kalian mengikuti kami. Pendapat
kami semuanya benar, pendapat kalian banyak salahnya." Orang yang terlalu
fanatik itu tidak mengakui jalan tengah. Ia menyalahgunakan aksioma, "Yang
haq adalah haq, yang bathil adalah bathil."
6. Suka Menyatakan Pendapat Tanpa
Dasar Yang Kuat
Muslim yang sok tahu gemar menyampaikan
pendapatnya dengan mengatasnamakan Islam tanpa memeriksa kuat-lemahnya
dasar-dasarnya. Ia suka berkata, "Menurut Islam begini.... Islam sudah
jelas melarang begitu...." dan sebagainya, padahal yang ia ucapkan
sesungguhnya hanyalah, "Menurut saya begini.... Saya melarang keras engkau
begitu...." dan seterusnya. Kalau toh ia berkata, "Menurut saya bla
bla bla....", ia hanya mengemukakan opini pribadinya belaka tanpa disertai
dalil yang kuat, baik dalil naqli maupun aqli.
7. Suka Berdebat Kusir
Jika pendapatnya dikritik orang
lain, orang yang sok tahu itu berusaha keras mempertahankan pandangannya dan
balas menyerang balik pengkritiknya. Ia enggan mencari celah-celah kelemahan di
dalam pendapatnya sendiri ataupun sisi-sisi kelebihan lawan diskusinya.
Sebaliknya, ia tekun mencari-cari kekurangan lawan debatnya dan
menonjol-nonjolkan kekuatan pendapatnya. Dengan kata lain, setiap berdiskusi ia
bertujuan memenangkan perdebatan, bukan mencari kebenaran.
Demikianlah beberapa ciri orang
yang sok tahu atau egois menurut surat al-'Alaq. Dengan mengenali ciri-ciri
tersebut, semoga kita masing-masing dapat melakukan introspeksi dan memperbaiki
diri sehingga kita tidak menjadi orang yang sok tahu. Aamien.
Sumber : Oleh: Hendra Pakpahan,
dinulislam.blogspot

No comments:
Post a Comment