Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 177 :
Artinya : “Orang-orang
yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan, mereka itulah
orang-orag yang benar imannya dan merekalah orang yang bertakwa.”
Marhaban wa-ahlan yaa romadhoonu
Artinya : “Selamat
datang ya Ramadhan”
Ucapan itulah yang senantiasa harus
disampaikan oleh setiap umat islam dalam tamu mulia, yaitu bulan Ramadhan.
Bulan yang dinantikan kehadirannya oleh setiap muslim dan muslimat dalam
suasana keistimewaan.
Ramadhan adalah bulan yang dirindukan umat
beriman. Sebab dalam bulan yang berkah itu Allah SWT banyak memberikan
kenikmatan dan kebaikan.
RAMADHAN
BULAN MULIA
Beberapa nama lain Ramadhan menunjukan
kemuliaan dan keutamaan bulan ini. Ia dinamakan syahrul Mubarak, karena didalamnya banyak terdapat barakah Allah
Ta’ala. Disebut syahrul fathi, karena
didalamnya terdapat kemenangan umat islam atas nafsunya. Kemenagan hak atas
kebatilan. Kemenangan keimanan atas kekufuran. Disebut juga syahrul ‘adzim, karena agung dan mulia.
Juga dinamakan syahrul qur’an, karena
pada bulan ini Al Qur’an diturunkan, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 185 :
Artinya : “Bulan
Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan
keterangan-keterangan dari petunjuk itu, serta pembeda antara haq dengan yang
bathil”.
Kemuliaan lain yang dimiliki oleh bulan
Ramadhan adalah adanya malam kemuliaan (Lailatul qadar). Dalam bulan suci ini
Allah Ta’ala melipatgandakan pahala kebaikan. Amalan sunnah dinilai dengan
amalan wajib. Amalan wajib dilipatgandakan sampai tujuh puluh kali lipat. Di
dalam bulan Ramadhan ini seluruh umat islam di berbagai tempat melaksanakan
ibadah wajib, yakni puasa/shaum Ramadhan.
Shaum memiliki nilai pendidikan yang amat
tinggi. Sejak dari menahan nafsu yang selalu bergejolak, membiasakan disiplin
dalam taat beribadah dan bekerja, bahkan menumbuhkan rasa kebersamaan (ta’awun)
dan persatuan.
Hal yang amat dijaga dan diarahkan kepada
yang baik ketika sedang melakukan shaum adalah dorongan syahwat perut dan
kemaluan. Dua hal yang sering menjerumuskan manusia. Karena itu makan minum dan
melakukan hubungan antara suami istri pada siang hari di bulan Ramadhan bisa
membatalkan puasa.
Syahwat perut dan kemaluan merupakan dua hawa
nafsu yang paling kuat pada diri manusia. Jika ia dierturutkan, banyak
menjerumuskan manusia ke dalam lembah nista. Tentunya korupsi, pungli,
ketidakadilan, penyalah gunaan kekuasaan, pelanggaran terhadap hak asasi
seseorang, sering terjadi karena syahwat perut dan kemaluan.
Dalam bulan Ramadhan ini umat islam dididik
secara efektif untuk menjadi orang-orang yang bersih jiwanya sehingga
melahirkan amal dan perbuatan terpuji. Puasa tidak sekedar aktifitas fisik,
meninggalkan makan dan minum, dan hubungan suami istri, bukan sekedar kegiatan
rutin setiap bulan Ramadhan. Lebih dari itu puasa adalah pengendalian diri dan
penghambaan (Ubudiyah) mutlak kepada Allah dengan jalan taat sepenuhnya kepada
sya’riat islam (peraturan hukum islam).
PUASA
RAMADHAN DAN JIHAD
Banyak kaum muslimin yang kurang menyadari
peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di bulan Ramadhan. Padahal menilik
sejarah, bulan Ramadhan memiliki nilai sejarah dan perubahan yang besar dalam
pasang surutnya dakwah islamiah.
Di antara peristiwa-peristiwa itu adalah
turunnya Al Quran, terjadi Perang Badar, pembukaan kota Mekkah, terjadi sebagian
rentetan Perang tabuk pada tahun kesembilan Hijriah, penyiaran agama islam di
Yaman pada tahun kesepuluh Hijriah, peristiwa ‘ainu jalut dan pembukaan kota
Andalus.
Perang Badar terjadi pada tanggal tujuh belas
Ramadhan pada tahun kedua Hijriah selama tiga hari. Inilah perang besar pertama
dan konfrontasi langsung dua seteru besar. Antara pembela panji-panji tauhid,
Rasulullah dan kaum muslimin melawan pendukung kemusrikan dan kejahiliahan
Quraisy. Sekitar tiga ratus pasukan mukminin dengan persenjataan lengkap dan
logistic yang memadai. Inilah perang hidup atau mati yang mentukan nasib islam
dan umat islam.
Sejarah mencatat, pasukan kecil kaum muslimin
itu yang ditopang dengan iman yang kokoh, semnagat yang tinggi dan rasa tawakal
yang penuh keberhasilan mengalahkan kafir Quraisy yang besar.
Firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah 249 :
Artinya : “Dan
betapa banyak pasukan yang sedikit mengalahkan golongan yang banyak (besar) dengan
izin Allah”.
Sedangkan peristiwa pembukaan kota Mekkah
sepuluh ribu pasukan mukminin dipimpin langsung oleh Nabi menaklukan Mekkah
tanpa perlawanan. Mekkah Quraisy di kala di kuasai Quraisy yang sebelumnya tampak
seakan-akan kuat dan besar, hari itu ibarat bangunan tanpa penyaggah. Rapuh
tanpa kekuatan. Sesungguhnya kemenangan atas Mekkah, puncak keberhasilan Nabi
menggerogoti kekuatan kafir dari dalam. Selama ini sudah banyak sekutu-sekutu
Quraisy di Jazarah Arab yang dikalahkan oleh Nabi SAW. ada yang melalui
penaklukan dengan taktik serangan mendadak (mughattah) ada pula yang melalui
perjanjian damai, hubungan dagang dan sebagainya. Hingga praktis basis-basis
kekuatan Quraisy dikuasai oleh Nabi dan kaum mukminin.
Banyak peperangan menegakkan agama islam
terjadi di bulan Ramadhan. Banyak pula mujahidin dalam keadaan berpuasa, ketika
menghadapai musuh di medan perang, ada juga kemudian yang berbuka karena tak
kuat. Di dalam keduanya terdapat kebaikan.
Muhammad bin Hanafiyah meriwayatkan : Aku
melihat Abu Amr Al Anshari ketika terkena panah, beliau berkata kepada
pelayannya. “Tutuplah aku denga perisai”, sambil mencabut panahnya dengan pelan
sampai dia wafat sebelum matahari terbenam dan beliau waktu itu dalam keadaan
shaum.
Pada hari kelima terakhir bulan Ramadhan
tahun kedelapan Hijriah Khalid bin Walid menyerbu tempat peribadatan Tuhan
‘Uzza di sebuah kebun kurma, seraya berkata kepada Nabi:
Tilkal
‘uzzaa walaa tu’badu Abadan.
Artinya :
“Itu Dia Tuhan Uzza dan tak akan pernah disembah selamanya.”
Dan pada tahun kesembilan Hijriah orang-orang
Bani Tsaqif dari Thaif datang menemui Rasulullah hendak masuk islam, sekaligus
pada tahun itu pula mereka menghancurkan patung Tuhan Lata yang sebelumnya
mereka sembah.
Tidak lupa pula pada tahun 479 Hijriah tanggal
25 Ramadhan bertepatan Jumat terjadi peristiwa Zallaqah (ketika Sahl berada di
suatu tempat dekat Portugis) atau yang disebut dengan hari Urubah dan Islam,
pada waktu itu tentara islam di Andalusia di bawah komando Yusuf bin Tasyifiin
menang atas tentara Faranjah yang jumlahnya mencapai 1000 tentara di bawah
komando Faunus.
Pesistiwa ‘ainu Jalut (sebuah tempat terletak
di antara Bisan dan Nabilus) terjadi pada Jumat pagi, tanggal 15 ramadhan,
tahun 658 Hijriah bertepatan dengan tanggal 3 ailul (September) tahun 1260
Miladiyah di bawah pimpinan Sultan Quthr sebagai sultan raja-raja Mesir,
setelah berteriak dengan lantang “WAISLAAMAH” dan menang atas Mongol yang
mundur karena tidak dapat menguasai sehingga pada akhirnya Sultan Quthur dapat
menyatukan Mesir dengan Syam.
Dan merupakan peristiwa penting juga ialah
pembukaan kota Andaulus yang terjadi tanggal 28 Ramadhan tahun 92 Hijriah
bertepatan dengan tanggal 19 Juli tahun 711 Miladiyah, di bawah komando Thariq
bin Ziyad setelah ia dapat mengusir (mendudukan) Rudrik sebagai pucuk pimpinan
tentara-tentara Quuth di Hasimah yang kemudian yang kemudian dikenal dengan
peristiwa “Buhairah”. Setelah ia menguasa Jabal Thariq lalu ia bakar perahunya,
seraya berkata di hadapan para tentaranya” “Lautan luas ada di belakang kalian
dan musuh-musuh itu datang dari hadapan kalian.” Dan setelah beres ia juga
membuka kota Qurnathah serta Thalithalah sebagai benteng pertahanan kota
Andaluisa.
bersambung...
.jpg)


.jpg)
No comments:
Post a Comment