Friday, June 27, 2014

Seputar Ramadhan (2)


RAMADHAN BULAN FURQAN
Pada masa kekhalifahan pelanjut perjuangan dakwah Rasulullah, program dakwah dan perluasan wilayah tak pernah mengalami istirahat karena datangnya Ramadhan. Perluasan ke timur dan ke barat, utara dan selatan berjalan terus dengan penuh semangat.

Panglima besar Khalid bin Walid pernah menghabiskan masa Ramadhan 12 Hijriah untuk suatu pengepungan kota Al firadh, kota yang terletak di perbatasan Irak dan Syria yang dipertahankan oleh suku Tighlab Iyyad dan Tammar dan diperkuat pula oleh sekutu mereka dari Parsi dan Bizamtium (Roma Timur). Gema takbir akhirnya bersahutan memenuhi seluruh penjuru kota setelah melalui pertempuran dasyat. Gema takbir sebagai tanda kemenangan atas orang kafir. Dan Thariq Atthabari mencatat pihak musuh menderita kerugian mendekati 100.000 jiwa melayang.

Selain itu Ramadan juga melahirkan sikap furqan (pembeda). Jika seorang mukmin atau muslim melakukan shaum, tapi tidak melahirkan sikap furqan, maka shaum itu tidak memiliki atsar (bekas) dan itu berarti tidak ada mamfaatnya, semakin tinggi tingkat shaum seseorang, maka ia akan semakin memiliki jiwa furqan yang tinggi. Mereka (mukmin) akan semakin sensitif melihat hal-hal yang bertentangan dengan syari’ah dan aqidah. Sosok mukmin yang memiliki sikap furqan itu di dalam pribadinya selalu menjaga tubuhnya agar selalu bersifat furqan (dapat membedakan yang baik dan yang buruk).

Di antaranya yang harus dijaga adalah:
1.      Penglihatan yang furqan adalah penglihatan yang tidak pernah melihat aurat lawan jenisnya . selalu mendudukkan pandangan terhadap pria atau wanita yang memang bukan muhrimnya.
2.    Pendengaran yang furqan adalah pendengaran yang diarahkan untuk menangkap informasi kebenaran. Tidak mau menerima fitnah, gunjingan dan keterangan-keterangan yang batil.
3.     Mulut dan lidah yang furqan selalu mengucapkan hal-hal yang baik. Mengajak orang ke jalan Allah, tidak mau bicara yang keji dan mungkar, atau yang tidak bermanfaat.
Tidak mau terlibat omongan dusta, gunjingan, fitnah dan sebagainya.
4.  Tangan yang furqan selalu siap menyumbangkan tenaga bagi tegaknya al-haq, memberi sedekah hingga yang kiri tidak tahu aktivitas yang kanan, memberi manfaat kepada manusia dengan menghasilkan karya-karya yang baik dan berguna. Tidak dipergunakan untuk menyakiti atau merusak.
5.      Kaki yang furqan, senantiasa berjalan ke tempat-tempat yang di ridhai Allah SWT. dan member manfaat pada masyarakat. Tidak pergi ke tempat maksiat yang dibenci Allah SWT.
6.  Perut yang furqan tidak mau menerima makanan yang haram dzatnya, sifatnya maupun akibatnya. Ia hanya makan makanan yang jelas halalnya serta tidak berlebihan
7.    Farji atau kemaluan yang furqan selalu terpelihara dari perbuatan zina, baik terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi. Hanya berhubungan dengan yang di halalkan oleh Allah melalui jenjang pernikahan yang sesuai dengan syari’at islam

Untuk mencapai tujuh unsure itu mesti dengan pembinaan dan pendidikan yang insentif. Pola pendidikan ini meliputi bidang akal, roh dan amal.
Roh di sibukan dan di isi dengan berhubungan kepada Allah. Akal senantiasa menampung fikrah (ide) yang mengerti mana yang batil dan mana yang tidak. Amal senantiasa harus selaras dengan hati dan pemikiran yang islami. Begitulah cara mencapai sikap furqan yang dapat dilakukan pula melalui puasa dalam Ramadhan.

RAMADHAN BULAN TARBIYAH
Ramadhan benar-benar merupakan bulan pembinaan (tarbiyah) bagi kaum muslimin. Di dalamnya Allah SWT menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada Nya. Dengan amalan-amalan yang pahalnya berlipat ganda. Pembinaan ini merupakan salah satu karakter Ramadhan, selain menjadi bulan jihad dan furqan, ia juga bulan tarbiyah.

Assyaikh Sayyid Hawwa rahimatullaahu berkata : “Pada hakikatnya Ramadhan merupakan madrasah, jika orang yang berpuasa pandai memanfaatkannya tidak seperti sebelumnya Ramadhan adalah madrasah, tempat seorang mukmin mempebarui ikatan-ikatannya dengan islam dalam dirinya dan mengambil bekal yang dapat menutupi segala kekurangan sebelumnya.”

Dengan tarbiyah Ramadhan ini semakin baik kehidupannya, baik secara individu dalam bentuk meningkatkan ikatan persaudaraan dan silaturahmi. Yang menandai Ramadhan ini sebagai Bulan Tarbiyah adalah turunnya Al Qur’an. Kata pertama turun adalah Iqra’ (bacalah). Maksudnya memperlajari, menghayati dan mengamalkan dalam perbuatan.

Allah swt berfirman dalam surat Ali imran ayat 79 :


Artinya : “Tidak, wajar bagi seseorang yang di berikan kepadanya alkitab hikmah dan kenabian, lalu berkata kepada manusia: hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembah selain Allah, tetapi ia berkata : Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani karena kamu selalu mengajarkan al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”.

Kebaikan Ramadhan yang merupakan latihan dan pendidikan bagi jiwa dan roh mukminin adalah qiyamullaili (shalat tarawih) dan I’tikaf di masjid. Dengan qiyamullail ini roh mukminin dan mukminat akan mendapatkan kekuatan spiritual yang maha dahsyat dalam menghadapi berbagai gelombang ujian dan cobaan dalam situasi dan kondisi apapun.

Kebaikan bulan Ramadhan juga memberikan bimbingan agar umat islam senantiasa menjadi umat yang pemurah dan dermawan, denga sikap member lebih banyak dalam menjalankan kewajiban dari menuntut hak semata-mata. Berilah pertolongan kepada kaum yang lemah. Bersihkan jiwa dan harta dengan membayar zakat firah dan maal, berikan shadaqah dan infaq di jalan Allah untuk pembangunan masjid, madrasah dan berbagai kegiatan dakwah islamiah. Semoga bulan suci Ramadhan benar-benar memberikan berkah dan rahmat kepada seluruh umat islam. Amin, yaa rabbal alamin..

Sumber : Tuntunan Ibadah Puasa,

Sairudin, A. Shomad Robith, Drs. Zainal Alim  

No comments:

Post a Comment