Pada masa kekhalifahan pelanjut perjuangan
dakwah Rasulullah, program dakwah dan perluasan wilayah tak pernah mengalami
istirahat karena datangnya Ramadhan. Perluasan ke timur dan ke barat, utara dan
selatan berjalan terus dengan penuh semangat.
Panglima besar Khalid bin Walid pernah
menghabiskan masa Ramadhan 12 Hijriah untuk suatu pengepungan kota Al firadh,
kota yang terletak di perbatasan Irak dan Syria yang dipertahankan oleh suku
Tighlab Iyyad dan Tammar dan diperkuat pula oleh sekutu mereka dari Parsi dan
Bizamtium (Roma Timur). Gema takbir akhirnya bersahutan memenuhi seluruh
penjuru kota setelah melalui pertempuran dasyat. Gema takbir sebagai tanda
kemenangan atas orang kafir. Dan Thariq Atthabari mencatat pihak musuh
menderita kerugian mendekati 100.000 jiwa melayang.
Selain itu Ramadan juga melahirkan sikap furqan
(pembeda). Jika seorang mukmin atau muslim melakukan shaum, tapi tidak
melahirkan sikap furqan, maka shaum itu tidak memiliki atsar (bekas) dan itu
berarti tidak ada mamfaatnya, semakin tinggi tingkat shaum seseorang, maka ia
akan semakin memiliki jiwa furqan yang tinggi. Mereka (mukmin) akan semakin
sensitif melihat hal-hal yang bertentangan dengan syari’ah dan aqidah. Sosok
mukmin yang memiliki sikap furqan itu di dalam pribadinya selalu menjaga
tubuhnya agar selalu bersifat furqan (dapat membedakan yang baik dan yang
buruk).
Di antaranya yang harus dijaga adalah:
1. Penglihatan
yang furqan adalah penglihatan yang tidak pernah melihat aurat lawan jenisnya .
selalu mendudukkan pandangan terhadap pria atau wanita yang memang bukan
muhrimnya.
2. Pendengaran
yang furqan adalah pendengaran yang diarahkan untuk menangkap informasi
kebenaran. Tidak mau menerima fitnah, gunjingan dan keterangan-keterangan yang
batil.
3. Mulut dan
lidah yang furqan selalu mengucapkan hal-hal yang baik. Mengajak orang ke jalan
Allah, tidak mau bicara yang keji dan mungkar, atau yang tidak bermanfaat.
Tidak mau terlibat omongan dusta, gunjingan,
fitnah dan sebagainya.
4. Tangan yang
furqan selalu siap menyumbangkan tenaga bagi tegaknya al-haq, memberi sedekah
hingga yang kiri tidak tahu aktivitas yang kanan, memberi manfaat kepada
manusia dengan menghasilkan karya-karya yang baik dan berguna. Tidak
dipergunakan untuk menyakiti atau merusak.
5. Kaki yang
furqan, senantiasa berjalan ke tempat-tempat yang di ridhai Allah SWT. dan
member manfaat pada masyarakat. Tidak pergi ke tempat maksiat yang dibenci
Allah SWT.
6. Perut yang
furqan tidak mau menerima makanan yang haram dzatnya, sifatnya maupun
akibatnya. Ia hanya makan makanan yang jelas halalnya serta tidak berlebihan
7. Farji atau
kemaluan yang furqan selalu terpelihara dari perbuatan zina, baik terang-terangan
maupun secara sembunyi-sembunyi. Hanya berhubungan dengan yang di halalkan oleh
Allah melalui jenjang pernikahan yang sesuai dengan syari’at islam
Untuk mencapai tujuh unsure itu mesti dengan
pembinaan dan pendidikan yang insentif. Pola pendidikan ini meliputi bidang
akal, roh dan amal.
Roh di sibukan dan di isi dengan berhubungan
kepada Allah. Akal senantiasa menampung fikrah (ide) yang mengerti mana yang
batil dan mana yang tidak. Amal senantiasa harus selaras dengan hati dan
pemikiran yang islami. Begitulah cara mencapai sikap furqan yang dapat
dilakukan pula melalui puasa dalam Ramadhan.
RAMADHAN
BULAN TARBIYAH
Ramadhan benar-benar merupakan bulan
pembinaan (tarbiyah) bagi kaum muslimin. Di dalamnya Allah SWT menyediakan
kesempatan yang seluas-luasnya bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada Nya.
Dengan amalan-amalan yang pahalnya berlipat ganda. Pembinaan ini merupakan
salah satu karakter Ramadhan, selain menjadi bulan jihad dan furqan, ia juga
bulan tarbiyah.
Assyaikh Sayyid Hawwa rahimatullaahu berkata
: “Pada hakikatnya Ramadhan merupakan madrasah, jika orang yang berpuasa pandai
memanfaatkannya tidak seperti sebelumnya Ramadhan adalah madrasah, tempat
seorang mukmin mempebarui ikatan-ikatannya dengan islam dalam dirinya dan
mengambil bekal yang dapat menutupi segala kekurangan sebelumnya.”
Dengan tarbiyah Ramadhan ini semakin baik
kehidupannya, baik secara individu dalam bentuk meningkatkan ikatan
persaudaraan dan silaturahmi. Yang menandai Ramadhan ini sebagai Bulan Tarbiyah
adalah turunnya Al Qur’an. Kata pertama turun adalah Iqra’ (bacalah). Maksudnya
memperlajari, menghayati dan mengamalkan dalam perbuatan.
Allah swt berfirman dalam surat Ali imran ayat 79 :
Artinya :
“Tidak, wajar bagi seseorang yang di berikan kepadanya alkitab hikmah dan kenabian,
lalu berkata kepada manusia: hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembah selain
Allah, tetapi ia berkata : Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani karena
kamu selalu mengajarkan al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”.
Kebaikan Ramadhan yang merupakan latihan dan
pendidikan bagi jiwa dan roh mukminin adalah qiyamullaili (shalat tarawih) dan
I’tikaf di masjid. Dengan qiyamullail ini roh mukminin dan mukminat akan
mendapatkan kekuatan spiritual yang maha dahsyat dalam menghadapi berbagai gelombang
ujian dan cobaan dalam situasi dan kondisi apapun.
Kebaikan bulan Ramadhan juga memberikan
bimbingan agar umat islam senantiasa menjadi umat yang pemurah dan dermawan,
denga sikap member lebih banyak dalam menjalankan kewajiban dari menuntut hak semata-mata.
Berilah pertolongan kepada kaum yang lemah. Bersihkan jiwa dan harta dengan
membayar zakat firah dan maal, berikan shadaqah dan infaq di jalan Allah untuk
pembangunan masjid, madrasah dan berbagai kegiatan dakwah islamiah. Semoga
bulan suci Ramadhan benar-benar memberikan berkah dan rahmat kepada seluruh
umat islam. Amin, yaa rabbal alamin..
Sumber : Tuntunan Ibadah Puasa,
Sairudin, A. Shomad Robith, Drs. Zainal Alim
.jpg)

No comments:
Post a Comment